Wednesday, 11 December 2013

Konflik, Perundingan, dan Perilaku Antarkelompok


PERILAKU ORGANISASI

KONFLIK, PERUNDINGAN, DAN PERILAKU ANTARKELOMPOK 



KONFLIK

Pengertian Konflik
  • Suatu proses yang mulai bilamana satu pihak merasakan bahwa pihak lain telah mempengaruhi secara negatif, sesuatu yang diperhatikan pihak pertama.
  • Segala macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara dua pihak atau lebih.
  • Konflik tidak dapat dihindari oleh organisasi, konflik bisa berdampak positif maupun negative. Organisasi tidak harus menghilangkan semua konflik hanya konflik yang merugikan yang harus dihilangkan.
 
Jenis-jenis Konflik:
  • Konflik yang terjadi dalam diri seseorang (person role conflict).
  • Konflik antar peranan (inter-role conflict).
  • Konflik yg timbul karena seseorang harus memenuhi harapan beberapa orang (intersender conflict).
  • Konflik yang timbul karena disampaikannya informasi yang bertentangan (intrasender conflict).

Konflik Menurut Pihak-pihak yang Bertentangan dalam Organisasi:
  • Konflik dalam diri individu.
  • Konflik antar individu dlm organisasi yang sama.
  • Konflik antara individu dan kelompok.
  • Konflik antar kelompok dlm organisasi yg sama.
  • Konflik antar organisasi.

Sumber Utama Konflik dalam Organisasi:
  • Saling ketergantungan kerja.
  • Perbedaan dalam berbagai tujuan.
  • Perbedaan nilai-nilai atau persepsi.
  • Meningkatnya kecanggihan, spesialisasi dan kerumutan dalam organisasi.

Transisi dalam Pikiran Konflik
  • Pandangan Tradisional : keyakinan bahwa semua konflik merugikan dan harus dihindari.
  • Pandangan Hub. Manusia : keyakinan bahwa konflik merupakan hasil yang wajar dan tidak terelakkan dalam setiap kelompok.
  • Pandangan Interaksionis : bahwa konflik tidak hanya suatu kekuatan positif dalam suatu kelompok melainkan juga mutlak perlu untuk suatu kelompok agar dapat berkinerja efektif.

Konflik Fungsional dan Disfungsional
  • Fungsional : Konflik yang mendukung tujuan dan memperbaiki kinerja kelompok. Konflik yang konstruktif
  • Disfungsional : Konflik yang merintangi kinerja kelompok. Konflik yang destruktif dan harus dihilangkan oleh manajemen.
Konflik fungsional dan disfungsional batasan tidak jelas, yang membedakan adalah kinerja kelompok atau organisasi

Segi Positif dari Konflik (Lewis A. Coser)
·        Konflik dalam organisasi:
  • Pergantian pimpinan yang lebih berwibawa, penuh ide baru dan semangat baru.
  • Perubahan tujuan organisasi yang disesuaikan dengan perubahan situasi dan kondisi.
·         Konflik dengan organisasi lain:
    • Lebih mempersatukan para anggota organisasi.
    • Lebih menyadarkan para anggota terhadap strategi dan taktik lawan.

    Segi negatif dari konflik, perubahan dalam kelompok:
      • Persepsi yang terganggu.
      • Menurunnya komunikasi.
      • Stereotip negatif.



      a.      Tahap I    Potensi Oposisi dan Ketidakcocokan
      Kondisi yang menciptakan terjadinya konflik meskipun kondisi tersebut tidak mengarah langsung ke konflik. Kondisi ini antara lain disebabkan oleh
      • Komunikasi: Komunikasi yg kurang baik dalam organisasi shg menimbulkan ketidaknyamanan antar anggota organisasi.
      • Struktur: Tuntutan pekerjaan menyebabkan ketidaknyamanan antar anggota organisasi mencakup tugas yang diberikan, gaya kepemimpinan, sistem ganjaran, wewenang.
      • Variabel pribadi: ketidak sukaan pribadi atas individu lainnya, karakteristik individu, cara bicara, sikap.

      b.      Tahap II   Kognisi dan Personalisasi
      • Apabila pada tahap I muncul kondisi yang negatif, maka pada tahap ini kondisi tersebut didefinisikan, sesuai persepsi pihak yang berkonflik.
      • Konflik yang dipersepsikan : kesadaran satu pihak atau  Lebih atas adanya konflik yang menciptakan peluang terjadinya konflik
      • Konflik yang dirasakan : keterlibatan emosional saat konflik yang menciptakan kecemasan, ketegangan, frustasi, atau kekerasan.
      c.       Tahap III Maksud
      Keputusan u/ bertindak dgn cara tertentu:
      • Kolaborasi: situasi yg di dalamnya pihak2 yg berkonflik sepenuhnya saling memuaskan kepentingan semua pihak.
      • Penghindaran: keinginan menarik diri dari konflik
      • Akomodasi: keinginan memuaskan kepentingan seseorang, Tidak mempedulikan dampak pada pihak lain dalam konflik tsb.
      • Persaingan: kesediaan satu pihak dlm konflik u/ memperlakukan kepentingan pesaing di atas kepentingannya sendiri.
      • Kompromi: satu situasi yg di dalamnya masing2 pihak yg berkonflik bersedia mengorbankan sesuatu.
      • Mengakomodasi: kesediaan dari suatu pihak dalam suatu konflik untuk menaruh kepentingan lawannya diatas kepentingannya.
      • Berkompromi: suatu situasi dalam mana tiap pihak pada suatu konflik bersedia melepaskan sesuatu.

      d.      Tahap IV Perilaku
      Pada tahap ini konflik tampak nyata, mencakup pernyataan, tindakan dan reaksi yg dibuat pihak2 yg berkonflik.

      e.       Tahap V   Hasil
      Pada tahap ini konflik dapat ditentukan apakah merupakan Konflik Fungsional atau Konflik Disfungsional.


      PERUNDINGAN

      Pengertian Perundingan:
      Suatu proses dalam mana dua pihak atau lebih bertukar barang atau jasa dan berupaya menyepakati nilai (rate) tukar barang dan jasa tersebut. Perhatikan bahwa kita mempergunakan istilah perundingan dan tawar menawar/bargaining/secara bergantian.

      Proses Perundingan

      • Persiapan dan Perencanaan: apa yang diinginkan dari perundingan, dan bagaimana sejarah yang mendorong perundingan tersebut.
      • Ketentuan aturan-aturan dasar: siapa yang akan terlibat, dimana diadakan, isu-isu apa yang akan dibahas.
      • Penjelasan dan pembenaran: menerangkan, menegaskan, memperjelas, memperkuat dan membenarkan tuntutannya kepada pihak yang lain.
      • Tawar-menawar dan pemecahan masalah: hakikat proses perundingan adalah beri – ambil yang aktual dalam upaya memperbincangkan suatu persetujuan.
      • Penutupan dan implementasi: langkah terakhir dalam proses perudingan memformalkan persetujuan yang telah dikerjakan dan melakukan pemantauan.


      PERILAKU ANTAR KELOMPOK

      Hubungan Antarkelompok
                  Inilah jembatan terkoordinasi yang menautkan dua   kelompok organisasional yang jelas terbedakannya. Seperti kita tujukan, efisiensi dan kualitas hubungan ini dapat mempunyai pengaruh yang mencolok pada kinerja salah satu atau keduakelompok dan kepuasan anggota mereka.

      Faktor yang Mempengaruhi Hubungan Antarkelompok:
                  Kinerja antar kelompok yang sukses merupakan sebuah fungsi dari sejumlah factor. Konsep paying yang mengesampingkan factor-faktor ini adalah koordinasi. Tiap factor berikut ini dapat mempengaruhi upaya koordinasi.
      1.      Kesalingtergantungan
      Tiga tipe kesalingtergantungan yang paling dikenal adalah kesalingtergantunganyang tersatukan, yang berurutan, dan yang timbal-balik. Masing-masing menuntut derajat interaksi kelompok yang makin meningkat.
      2.      Ketidakpastian tugas
      Kunci menuju ketidakpastian tugas adalah bahwa tugas tidak rutin menuntut pemrosesan informasi yang agak lebih banyak. Tugas dengan ketidakpastian yang rendah cenderung dibekukan.

      Waktu dan Orientasi Tujuan
      Mengapa kelompok kerja bisa mempunyai waktu dan orientasi tujuan yang berlainan?
                  Manajemen puncak membagi kerja dengan memberitugas-tugas yang lazim pada kelompok-kelompok fungsional yang biasa danmenugasi kelompok-kelompok ini dengan tujuan yang spesifik. Kemudian orangdipekerjakan dengan latar belakang dan keterampilan yang sesuai untuk menyelesaikan tugas-tugas dan membantu kelompok mencapai tujuannya.Diferensiasi tugas dan hal mempekerjakan spesialisai lebih mempermudah pengkoordinasian kegiatan intra kelompok. Tetapi sebenarnya juga mempersulitmanajemen puncak untuk mengkoordinasikan interaksi antar-kelompok-kelompok.

      Metode untuk Mengelola Hubungan Antarkelompok 
      -     Aturan dan Prosedur
      -     Hirarki
      -     Perencanaan
      -     Peran Penghubung
      -     Satuan Tugas
      -     Tim
      -     Departemen Pemadu