Tuesday, 9 August 2016

Haruskah tau kapan mati, baru mau taubat?

Lagi pengen bahas tentang Fredi Budiman (alm). Agak telat sih ya dari heboh-hebohnya beritanya kemarin. Siapa dia? Bandar narkoba yang udah dipenjara tapi masih bisa mengendalikan perdagangan dari dalam lapas, dan akhirnya dihukum mati beberapa minggu lalu. Sekilas aja, bener kan?

Di dalam Lapas masih bisa mengendalikan jaringan peredaran narkoba. Hemmm. Sebagai bagian dari Kemenkumham dan pernah kerja di Lapas, Lapas Narkotika pula, yaaah agak miris ya dengernya.

Di luar itu semua, aku bukan mau bahas narkoba, atau lapas, atau siapa Fredi dengan lebih detail. Aku juga gak tau. Baca beritanya juga gak pernah sih. Sekarang cuma mau bahas tentang tobatnya Fredi sebelum eksekusi mati.

Sebelum eksekusi, penampilan Fredi nampak begitu Islami denggan peci dan baju koko. Dia itu baru jadi muallaf kan? Banyak yang bilang Fredi sudah insyaf, sudah tobat. Banyak juga yang menduga insyafnya karena udah tau bakalan mati. Nah, bagian inilah yang pengen ku bahas.

Si Fredi taubat beneran atau tobatnya pura2 karena mau dieksekusi, itu Allahu a'lam. Hanya Allah yang berhak nerima/nolak. Hanya Allah yang kasih hidayah. Kita gak usah menjudge. Justru itu peringatan besar buat kita. Kenapa?

Beruntunglah si Fredi tau kapan akan mati, jadi dia sempat tobat. Beruntunglah dia dikasih hidayah sebelum ajalnya. Lha kita? Kita disini maaih nyantai aja seolah mati masih lama. Kita gak tau kapan. Kita gak tau sempatkah kita bertaubat sebelum ajal itu datang. Haruskah kita juga tau kapan mati, baru kita mau menyiapkan diri? Baru mau taubat?

Sayangnya kita gak ada yang tau. Bisa jadi besok bahkan mungkin sekarang ajal datang, tanpa menunggu taubat kita, tanpa bertanya siapkah kita. Maka jagalah diri selalu di jalan-Nya. Ingat mati, insya Allah selalu melindungi kita agar tidak melakulan maksiat. Semoga kita semua dipanggil dalam keadaan khusnul khotimah. Aamiin.