Monday, 11 December 2017

TB Tulang, My Sick My Adventure (Part 2)

Melanjutkan kisahku sebelumnya yang terputus lamaaaa (maklum, niat dan mood menulis yang makin memudar). Link sebelumnya >> TB TULANG Part 1 <<

Penderitaan yang Tiada Henti

Malam itu juga, Rabu 17 Mei 2017, setelah dari klinik dokter bedah saraf, aku langsung dirujuk ke IGD RSUP Prof. Dr. M. Hoesin Palembang. Suasana yang jauh berbeda dengan IGD rumah sakit yang dulu. Disini sangat ramai antrian. Tapi dengan surat rujukan yang kubawa, aku bisa langsung masuk. Disinilah penderitaan itu dimulai.

Datang suster yang akan mengambil sampel darah. Tusukan pertama, gagal. Dan baru berhasil di tusukan kedua. Lanjut lagi datang koas untuk pasang infus. Koas pertama, mencoba di punggung tangan kiri, gagal. Tangan langsung bengkak besar, terasa ngilu dan kaku. Ganti koas kedua, nusuk di pergelangan bagian samping tangan kiri. Dua kali tusukan, masih gagal. Ya Allah, rasanya pengen teriak "hei kalian pikir aku kelinci percobaan, jadi bahan tusuk-tusukan!". Tapi apadaya gak ada tenaga. Selanjutnya dipanggil suster yang tadi ambil darah. Langsung dalam hati berpikir "Yah, dia lagi. Tadi aja nusuk dua kali". Dan ternyata benar, dia gagal lagi. Nusuk di punggung tangan kanan, dan darahnya malah ngucurr deras. Terakhir datang residen. Setelah nanya "kenapa ini?", terus dia pegang tangan kanan, nusuk bagian samping pergelangan tangan kanan, dan berhasil. Alhamdulillah. Masang infus aja udah serasa cobaan berat.

Posisiku masih di IGD. Belum boleh pindah ke kamar. Mungkin karena sudah terlalu malam, jadi harus menunggu besok pagi. Suasana IGD yang hiruk pikuk membuatku gak bisa tidur sama sekali. Ditambah lagi aku hanya boleh terlentang dan gak boleh banyak gerak, terutama bagian leher. Lelah. Sakit. Ngantuk. Tapi gak bisa tidur. Cuma nangis semaleman. Mata sudah bengkak sembab. Waktu terasa berjalan sangaatt lama.

Keesokan paginya yang sudah ditungu-tunggu begitu lama. Akhirnya aku boleh pindah ke kamar. Sebelumnya ke bagian radiologi untuk rontgen torax. Sesampainya di kamar, aku harus diangkat untuk dipindahkan dari ranjang IGD ke ranjang kamar. Harus hati-hati karena mempertahankan posisi leherku tetap lurus dan gak bergerak.

Bedrest total. Segala aktivitasku dilakukan di atas ranjang. Makan, minum, BAB, BAK, sholat, dll cuma bisa posisi terlentang. Dokter bilang akan menjadwalkan operasi minggu depan. Harus terlentang begini semingguan. Ya Allah, baru sehari aja rasanya sudah capek. Gak sanggup kek gini terus. Pengen balik badan, miring kanan-kiri. Malam kedua, di kamar yang nyaman, tapi tetap aja gak bisa tidur. Cuma nangis (lagi). Ngeluh sama ibuk "Capek buuuk". Ibuk tetep sabar nemenin sampe aku bisa tidur. Malem ketiga, bukan hanya lelah tapi bertambah masalah baru, yaitu kegerahan. Malem keempat, penderitaan kembali bertambah, yaitu gatal. Yah, punggung gak pernah bergerak dan dalam kondisi lembab jadi bikin gatel-gatel. Dan semua keluh-kesah itu berakhir di ibuk. Ibuk selalu nasehati, "Jangan ngeluh, dzikir bae terus. Lama-lama nanti capek, ngantuk, terus bisa tidur". Sambil ngipas-ngipasin dan ngelus-ngelus badanku yang gatel.

Sering juga malem-malem susah tidur karena berisik. Berisik bunyi ngorok!! Ayah, ibuk, dan mas semua tidur di rumah sakit. Dan ayah itu ngorok parah. Dongkol, kesel, marah, bahkan benci. Aku tidur harus dengan susah payah ditambah bunyi berisik yang mengganggu. Tapi tetep aja ibuk yang selalu nenangin. Walau nampak sangat ngantuk, tetap bertahan menemaniku. "Jangan dibawa kesel. Harus tenang, harus ikhlas. Kalo dalam hati ini nyimpen dongkol, kesel, marah, malah makin jadi ngerasa gatellah, gerahlah, berisiklah".

Perjuangan tidur yang berat setiap malam. Dan saat siang makin mengenaskan. Kondisiku terlihat begitu menyedihkan. Saat itu aku seperti kehilangan separuh semangatku. Hanya berbaring terlentang menatap langit-langit. Orang-orang yang datang menjenguk, ngajakin ngobrol menyemangati, gak sanggup kurespon. Males ngobrol. Gak bisa lagi ikut ketawa. Hanya terdiam. Lelah. Lelah karena posisi yang gak berubah-ubah, lelah karena kurang tidur, lelah karena tiap malam nangis, dan lelah hati dan pikiran yang gak berenti-berenti.

Pakde, bude yang datang menjenguk selalu menasehati, "Gak boleh ngelamun. Dzikir terus, inget Allah. Dedek harus kuat. Ingetlah nak, semuanya nanti pasti ada hikmahnya. Inget dak dulu waktu Dedek dak lulus STIS? Dedek kecewa, kita semua bersedih. Tapi ternyata Allah ganti yang lebih baik lagi. Selesai kuliah langsung lulus PNS, penempatan disinilah. Dak mental jauh di tempat lain. Inget, kita harus selalu bersyukur. Allah kasih penyakit, tapi Allah kasih jalan untuk sembuh. Ada ibuk ayah yang siap biaya. Diluar sana banyak yang sakit tapi dak punya apa-apa, dak bisa berobat". Setiap dinasehati, air mata ini selalu menetes tak dapat tertahan lagi. Aku ingin bersikap seperti biasa, bersemangat, ceria. Tapi entahlah, rasanya tubuh ini kehilangan semuanya. Sudah terlalu lelah untuk sekedar bicara, apalagi tertawa.
.
.
.
****Publish separoh dulu, nanti edit lagi****

Saturday, 7 October 2017

Tb Tulang. My Sick, My Adventure

Sudah terlalu lama meninggalkanmu, tanpa tulisan baru. Biasanya selalu jadi tempat curhat. Tapi sayangnya hasrat menulis mulai punah. Tapi kali ini ingin berbagi kisah panjang dan akan menjadi salah satu sejarah dalam hidupku. Beberapa bulan lalu mendapat ujian berat, ketika Allah mengambil nikmat sehat. Dan inilah awal dari kisahnya.

Ketika sakit itu mulai ada, tapi tak dirasa-rasa....

Sekitar bulan Januari, mulai ngerasain sakit pinggang. Mungkin karena lagi sibuk-sibuknya di kantor. Tiap malem begadang nyelesaiin kerjaan. Bungkuk-bungkuk depan laptop, ya wajarlah pinggang jadi nyut-nyutan. Beberapa kali manggil tukang urut, tapi tetap gak mempan.

Sampai berganti bulan. Februari. Sakitnya makin terasa. Ditambah lagi dapet perintah DL (Dinas Luar) ke beberapa daerah. Harus duduk lama berjam-jam naik mobil, kebayang kan apa kabar pinggang. Tapi demi tugas, harus tetep berangkat. Sakit pinggang makin menjadi. Balik DL, mulai periksa ke dokter. Awalnya ke klinik dokter umum deket rumah, tapi obatnya tetap gak mempan. Lalu ke dokter penyakit dalam. Mungkin ada masalah ginjal yang menyebabkan sakit pinggang. Tapi setelah USG, ternyata gak ada masalah. Dikasih obat juga masih gak mempan. Coba dirontgent juga gak ada masalah. Saat itu sakitnya sudah menjalar ke leher dan lengan kiri.

Dapet perintah DL lagi, ke Bogor, 3 hari. Kondisi sakit pun tetap harus berangkat, karena memang tugasku dan gak bisa digantiin yang lain. Hingga akhirnya balik ke rumah tepar. Otot leher tiba-tiba kencang, tegang. Ijin gak masuk kerja pertama kalinya. Periksa ke dokter direkomendasikan ke bagian rematologi. Ditanyain "kurang olahraga ya?", "Kurang berjemur matahari ya?". Ya, semuanya benar. Kata dokter makanya otot jadi tegang semua. Disuruh tes lab vitamin D. Dan ternyata hasilnya di bawah standar. Selanjutnya selain dikasih obat juga dibantu suntik vitamin D seminggu sekali.

Pas pertama kali suntik, sampe bikin nangis. Sebenernya bukan karena sakit, tapi karena pesan dari dokter.
Dokter: "Gimana, udah olahraga? Udah berjemur?"
Ibuk: "Dia ini gak ada waktunya dok. Balik kerja langsung kuliah."
Dokter: "Ya kita harus tau prioritas. Untuk apa pekerjaan bagus, pendidikan tinggi, tapi kondisi kayak gini, badan gak sehat. Ini sudah termasuk parah lho. Jadi harus banyak istirahat, olahraga, berjemur. Jangan dulu kerja yang tegang-tegang."
Ibuk: "Berapa lama dok penyembuhannya?"
Dokter: "Bisa 3-6 bulan. Tergantung rajin olahraga dan berjemur gak."

Entah kenapa mata langsung berkaca-kaca. Gak nyangka, kurang vitamin D sampe segitunya. Dipikir sekedar kayak kurang vitamin C, banyak makan jeruk, vitacimin, dan sariawan seminggu bakal sembuh. Airmata ngalir gak berenti-berenti, bahkan sampai sepanjang jalan di mobil dari klinik dokter pulang ke rumah. Akhirnya terpaksa ngambil cuti pertama kalinya. Lumayan dapet cuti 9 hari, ngabisin cuti tahun lalu. Ditambah 2 kali tanggal merah dan sabtu-minggu, jadi total 2 minggu cuti 10-24 April. Selama cuti tiap pagi olahraga dan berjemur. Tapi sampe cuti habis, kondisi masih belum membaik dan sudah harus kembali ngantor seperti biasa.

Kondisi semakin parah. Kepala sampai teleng sebelah ke kanan, tangan kiri mulai lemah gak bisa diangkat. Udah sebulan suntik belum ada perubahan. Akhirnya dokter nyaranin MRI supaya tahu penyakitnya kenapa. Kata dokter seharusnya sudah enakkan karena ototnya sudah gak tegang lagi. Pertama kalinya nyoba MRI scan dan hasilnya....

TB Tulang.

Kabar yang sangat mengejutkan. Penyakit yang belum pernah tahu. Dokter menjelaskan tulangku terkena virus di ruas tulang leher ke 3 dan 4. Pengobatannya bisa 8-12 bulan rutin minum obat setiap hari. Disuruh hati-hati gak boleh lagi capek, bawa tas berat, karena tulangnya mudah rapuh.

Walau sudah tahu penyakitnya, tapi tetep ngantor seperti biasa. Badan makin gak karuan. Kerja makin gak optimal. Hingga akhirnya gak sanggup lagi bertahan. Terpaksa harus dirawat di rumah sakit untuk pertama kalinya. Minggu sore ke UGD RS Hermina, tapi ternyata kamar penuh. Kemudian dirujuk ke RS Siti Khadijah. Ditangani oleh dokter penyakit dalam. 7-10 Mei. Selama di rumah sakit, sakitnya mulai berkurang, karena infus obat. Akhirnya dibolehin pulang. Saat itu kondisiku belum benar-benar sehat. Tapi kupikir wajar, karena masih harus lanjut rawat jalan.

Sore hari perjalanan pulang dari rumah sakit, berbaring di mobil dengan rasa sakit yang mulai kembali terasa. Tepat di depan pintu rumah, rasa sakitnya kembali kumat, parah.
Ibuk: "Ngapo? Ya Allah nak, kito baru balek rumah sakit, ngapo lah cak ini lagi."

Rasa sakit yang tak bisa lagi ditahan....

Saturday, 15 October 2016

Pindah

15 Oktober tepat setahun lalu, pindah ke tempat baru. Sesungguhnya bukan tempat yang baru, karena dari kecil sudah biasa kesitu. Kuliah juga magang disitu.
Suasana baru. Lingkungan baru. Teman-teman baru. Tugas-tugas baru. Beban baru. Adaptasi lagi. Gelisah, takut, sedih, kesal, marah, benci, pasrah.
Terpaksa. Dipaksa. Sudah ikhlas? Entahlah. Masih berusaha menerima. Banyak pelajaran didapat setelah semua rasa sakit itu perlahan tertutup.
Tertutup? Atau hilang? Entahlah. Ada hikmah di balik setiap kejadian. Masih mencoba mengumpulkan setiap kepingan hikmah untuk menutup luka.
Terima kasih saat itu ada yang menemani dan menasehati. Mengisi waktu saat gelisah, takut, bingung, dan sendirian, membunuh bosan. Yang menguatkanku untuk ikhlas. Terima kasih meski sekarang ia telah pergi menjauh.
Sekarang tepat setahun berlalu. Setahun yang penuh pelajaran dan pengalaman baru. Berbeda antara tempat lama dan baru. Sama-sama mengajarkanku.
Dan kebetulan nota dinas akan segera benar-benar menjadi SK. Akan benar-benar pindah. Sah. Tak lagi menjadi bagian dari tempat lama. Tapi semuanya takkan terlupa.
Mungkin ada satu hal yang tak bisa lagi kurasakan. Kebanggaanku menjadi bagian dari Polsuspas. Dengan bangga kusebut kerja di Lapas. Tak bisa lagi.
Meski tempat sekarang masih sangat berhubungan, bahkan lebih tinggi naungannya, di Kanwil. Tapi entahlah, tak se-special menjadi pegawai Lapas, menjadi Polsuspas.
Tapi di kanwil, banyak juga pengalaman baru yang (mungkin) tak bisa kudapat di tempat lama. Aku bisa keliling ke lapas rutan di daerah, bisa berangkat ke kota lain kegiatan dari pusat, dan yang paling berharga ilmu agamaku bertambah karena bersama teman-teman yang sedang belajar mengikuti sunnah. Alhamdulillah.
Semua tempat sama. Bersyukurlah. Ikhlaslah. Insya Allah. Terima kasih untuk semuanya. Tempat baru dan lama. Terima kasih juga untuk yang memaksa.
Aku tau ini semua demi kebaikanku. Meski kau mengabaikan penolakan kerasku. Maaf hingga sekarang aku masih belajar ikhlas menerima keputusanmu. Terima kasih Ibu. Maafkan aku.

The Meaning of Life

Summary of Video "The Meaning of Life" Muslim Spoken Words

By: Talk Islam
Source: https://m.youtube.com/watch?v=7d16CpWp-ok

These are just simple life questions.
Like, “What are we doing here?” and, “what is our purpose?”
“How did we get here?” and, “Who made us so perfect?”
And, “What happens once we go?” or, “Is this world all really worth it?”
There’s no purpose to this life and our existence is merely natural (?)
Then in that case, please let me ask you. Did you create yourself or is it someone else who had fashioned you?
So many signs, yet we still deny.
Science tries to justify that all this could come from none. When it’s a simple sum: 0+0+0 cannot possibly ever give you one.
So from where did all this order come?

Saying we will live then die then simply turn to bones.
Y.O.L.O (You Only Live Once) (?)
Correction.
After the grass dies, the rain arrives and it re-grows. And Allah promises to do the same thing to your every soul.
And we are surely being tested, in our wealth, our health, and our self, and everything that we’ve been blessed with.
So believe, for we will surely be resurrected. And be brought back to our Lord and account for every single deed.
From the bad to the good and everything in between. You yourself are sufficient for your own accountability.

If you disbelieve, Read!
And don’t let that day (The Death) be the first day you find out what your life really means.
Read!

Ditabrak Bus Kota

Kemarin pulang kantor jam setengah lima lewat. Buru-buru berangkat kuliah, udah telat. Inget kata temen, kalo dosen MK hari Jumat gak boleh dateng telat.

Nungguin ibu masih apel, dari jam empat sampe setengah lima belum selesai. Kayaknya Pak Kakanwil ngoceh panjang. Btw aku gak ikut apel, karena pas bunyi bel aku lagi di mushola, baru mau sholat Ashar. Karena takut makin telat kuliah, jadi aku pulang ninggalin ibu.

Sepanjang jalan macet padat merayap. Padahal kemaren-kemaren, macet akibat pembangunan LRT udah agak mendingan. Huh, cobaan banget, tau lagi buru-buru, tumben banget macetnya bertambah. Bete.

Mobil lagi posisi diem karena cuma bisa dikit-dikit banget, tiba-tiba denger bunyi gedubraakk. Aku langsung ngeliat bawah kursi depan kanan kiri, gak ada apa-apa. Mikirnya ada sesuatu barang yang jatoh. Masih mikir di belakang ada barang apa yang jatoh. Pas noleh, ternyata bus kota udah nempel. Astaghfirullah... Ternyata ditabrak. Ck.ck. Slow respon. Ngeh-nya telat bangettt. Gak nyadar bahaya dari luar, malah cuma kepikiran ada sesuatu jatoh di dalam mobil.

Entah terlalu lemot, atau karena udah bete macet dan buru-buru telat kuliah, atau memang karena belum pengalaman. Sampe bingung mau turun atau gak. Tapi karena liat bapak-bapak di ruko pinggir jalan nunjuk-nunjuk, terus keneknya juga ngeliat-liat, takutnya nanti ternyata bagian belakang rusak parah, akhirnya aku stop juga, keluar mobil.

Dua orang mendekat. Entah kenek dan sopir kali. Mereka cuma bilang "tenang mbak, dak apo-apo mobilnyo." Aku gak kepikiran mau ngoceh atau marah-marah. Cuma bisa jawab, "Nian apo dak apo-apo?" Liat belakang sebelah kiri di atas bumper ternyata ada lecet, tapi gak sampe penyok. Karena lagi buru-buru, udah jam lima lewat, mikirin kuliah udah telat banget, dan karena gak mau ambil pusing, jadi lanjut jalan lagi. Makin bete.

Lagian bus kota, mau diapain? Minta ganti rugi juga gak mungkin. Masa iya minta jatah setoran mereka. Jadi yaudin dehh. Daripada ribut di jalanan ngelawan kenek bus. Nambah hal baru dengan bikin jalanan tambah macet. Gak lucu. Mungkin si kenek dan sopir agak bersyukur karena yang ditabrak cewek. Kalo cowok atau bapak-bapak, mungkin udah jadi ribut. Ggrrrr.

Nyampe kampus, untungnya masih bisa masuk. Dosennya gak marah. Gak sia-sia perjuangannya. Pas balik kuliah, mobil diliat kawan, ternyata bumper belakang juga agak turun sebelah kiri. Aku juga gak ngeh, cuma ngeliat lecetnya doang. Hadeehh...

Jumat berkah. Alhamdulillah masih selamat dan sehat wal'afiat. Tetap berayukur. Lebih hati-hati. Karena walaupun kita udah hati-hati, masih ada bahaya dari luar orang yang gak hati-hati.

Friday, 19 August 2016

Cerpen Fiksi : Dia.Lo.Gue (Dialogue)

Di suatu tempat, pada suatu waktu aku melihat kamu dan dia. Kamu yang tiba-tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan. Dan kini kamu bersamanya. Siapa dia?

Gue : Jadi karena dia? (Aku menatap kamu dan dia bergantian. Wanita dengan dandanan seksi dan kaya. Wanita yang sudah menghancurkan bertahun-tahun hubungan kita dalam sekejap. Lima tahun bersama rusak seketika dalam waktu dua bulan. Kamu hanya menunduk tak berdaya, sementara dia memasang wajah dengan senyum kemenangan.)

Lo : Maaf, dia bisa lebih ngertiin gue. (Kamu memberanikan diri mengangkat wajah menatapku sekilas lalu menatapnya.)

Gue : (Aku menatapmu semakin dalam. Mencoba membaca isi hati dan pikiranmu. Bingung, tak mengerti jalan pikiranmu.) Lalu menurutmu, aku gak pernah mengerti? (Siapa sebenarnya dia? Apa yang membuatmu memilihnya dan meninggalkanku begitu saja. Seksi? Kaya? Jelas aku gak ada apa-apanya. Tapi, serendah itukah?)

Lo : (Kamu kembali menunduk, seakan menyadari alasanmu yang hanya dibuat-buat. Sementara wajahnya semakin membuatku muak.)

Thursday, 11 August 2016

Murid Jaman dulu vs Murid Manja Jaman Sekarang

Lagi heboh-hebohnya masalah guru-murid-orang tua. Murid gak buat PR atau murid gak sopan - guru menghukum - muridnya ngadu ke orang tua - orang tua ngelapor polisi atau nggebukin gurunya. Hemmm. Gak habis fikir dengan orang tuanya. Apa maksudnya coba. Anak manja dan orang tua yang terlalu memanjakan.

Jadi inget jaman SD dan SMP. Dihukum guru mana berani ngadu ortu. Yang ada malah makin dimarahi kali. Waktu SD, pernah dipukul pake penggaris kayu panjang di tangan atau betis. Hanya karena ngerjain tugas 10 soal, cuma bener 7, jadi 3 kali dipukul di tangan. Atau hanya karena kuku panjang. Pernah juga dijewer guru gara-gara ngejahilin temen sebangku. Seingatku cuma itu. Secara anak baik-baik, rajin, pinter, jadi jarang dihukum guru. Hahaha.

Terus jaman SMP. Pernah dijemur rame-rame tengah hari bolong hanya karena gak dateng nyambut presiden di pinggir jalan pas pak presiden dateng mau lewat, sore di luar jam sekolah. Padahal waktu itu beneran gak tau infonya, tapi tetep kena hukum. Pernah juga ditampar guru di pipi, serius ditampar. Pertama kalinya ditampar dan belum pernah lagi sampe sekarang (semoga gak pernah lagi selamanya), hanya karena gak bawa gunting buat potong rumput waktu pembersihan (peralatan yang wajib dibawa pas hari Jumat). Yak, waktu itu hari Jumat, gak ada jam pelajaran, hanya senam, pembersihan kelas, lalu kegiatan ekskul. Habis senam, temen kelas masih nongkrong-nongkrong depan kelas, nyantai-nyantai istirahat, gak langsung mulai pembersihan. Padahal kelas lain sudah pada sibuk nyapu dan lain-lain.