Saturday, 15 October 2016

Pindah

15 Oktober tepat setahun lalu, pindah ke tempat baru. Sesungguhnya bukan tempat yang baru, karena dari kecil sudah biasa kesitu. Kuliah juga magang disitu.
Suasana baru. Lingkungan baru. Teman-teman baru. Tugas-tugas baru. Beban baru. Adaptasi lagi. Gelisah, takut, sedih, kesal, marah, benci, pasrah.
Terpaksa. Dipaksa. Sudah ikhlas? Entahlah. Masih berusaha menerima. Banyak pelajaran didapat setelah semua rasa sakit itu perlahan tertutup.
Tertutup? Atau hilang? Entahlah. Ada hikmah di balik setiap kejadian. Masih mencoba mengumpulkan setiap kepingan hikmah untuk menutup luka.
Terima kasih saat itu ada yang menemani dan menasehati. Mengisi waktu saat gelisah, takut, bingung, dan sendirian, membunuh bosan. Yang menguatkanku untuk ikhlas. Terima kasih meski sekarang ia telah pergi menjauh.
Sekarang tepat setahun berlalu. Setahun yang penuh pelajaran dan pengalaman baru. Berbeda antara tempat lama dan baru. Sama-sama mengajarkanku.
Dan kebetulan nota dinas akan segera benar-benar menjadi SK. Akan benar-benar pindah. Sah. Tak lagi menjadi bagian dari tempat lama. Tapi semuanya takkan terlupa.
Mungkin ada satu hal yang tak bisa lagi kurasakan. Kebanggaanku menjadi bagian dari Polsuspas. Dengan bangga kusebut kerja di Lapas. Tak bisa lagi.
Meski tempat sekarang masih sangat berhubungan, bahkan lebih tinggi naungannya, di Kanwil. Tapi entahlah, tak se-special menjadi pegawai Lapas, menjadi Polsuspas.
Tapi di kanwil, banyak juga pengalaman baru yang (mungkin) tak bisa kudapat di tempat lama. Aku bisa keliling ke lapas rutan di daerah, bisa berangkat ke kota lain kegiatan dari pusat, dan yang paling berharga ilmu agamaku bertambah karena bersama teman-teman yang sedang belajar mengikuti sunnah. Alhamdulillah.
Semua tempat sama. Bersyukurlah. Ikhlaslah. Insya Allah. Terima kasih untuk semuanya. Tempat baru dan lama. Terima kasih juga untuk yang memaksa.
Aku tau ini semua demi kebaikanku. Meski kau mengabaikan penolakan kerasku. Maaf hingga sekarang aku masih belajar ikhlas menerima keputusanmu. Terima kasih Ibu. Maafkan aku.

The Meaning of Life

Summary of Video "The Meaning of Life" Muslim Spoken Words

By: Talk Islam
Source: https://m.youtube.com/watch?v=7d16CpWp-ok

These are just simple life questions.
Like, “What are we doing here?” and, “what is our purpose?”
“How did we get here?” and, “Who made us so perfect?”
And, “What happens once we go?” or, “Is this world all really worth it?”
There’s no purpose to this life and our existence is merely natural (?)
Then in that case, please let me ask you. Did you create yourself or is it someone else who had fashioned you?
So many signs, yet we still deny.
Science tries to justify that all this could come from none. When it’s a simple sum: 0+0+0 cannot possibly ever give you one.
So from where did all this order come?

Saying we will live then die then simply turn to bones.
Y.O.L.O (You Only Live Once) (?)
Correction.
After the grass dies, the rain arrives and it re-grows. And Allah promises to do the same thing to your every soul.
And we are surely being tested, in our wealth, our health, and our self, and everything that we’ve been blessed with.
So believe, for we will surely be resurrected. And be brought back to our Lord and account for every single deed.
From the bad to the good and everything in between. You yourself are sufficient for your own accountability.

If you disbelieve, Read!
And don’t let that day (The Death) be the first day you find out what your life really means.
Read!

Ditabrak Bus Kota

Kemarin pulang kantor jam setengah lima lewat. Buru-buru berangkat kuliah, udah telat. Inget kata temen, kalo dosen MK hari Jumat gak boleh dateng telat.

Nungguin ibu masih apel, dari jam empat sampe setengah lima belum selesai. Kayaknya Pak Kakanwil ngoceh panjang. Btw aku gak ikut apel, karena pas bunyi bel aku lagi di mushola, baru mau sholat Ashar. Karena takut makin telat kuliah, jadi aku pulang ninggalin ibu.

Sepanjang jalan macet padat merayap. Padahal kemaren-kemaren, macet akibat pembangunan LRT udah agak mendingan. Huh, cobaan banget, tau lagi buru-buru, tumben banget macetnya bertambah. Bete.

Mobil lagi posisi diem karena cuma bisa dikit-dikit banget, tiba-tiba denger bunyi gedubraakk. Aku langsung ngeliat bawah kursi depan kanan kiri, gak ada apa-apa. Mikirnya ada sesuatu barang yang jatoh. Masih mikir di belakang ada barang apa yang jatoh. Pas noleh, ternyata bus kota udah nempel. Astaghfirullah... Ternyata ditabrak. Ck.ck. Slow respon. Ngeh-nya telat bangettt. Gak nyadar bahaya dari luar, malah cuma kepikiran ada sesuatu jatoh di dalam mobil.

Entah terlalu lemot, atau karena udah bete macet dan buru-buru telat kuliah, atau memang karena belum pengalaman. Sampe bingung mau turun atau gak. Tapi karena liat bapak-bapak di ruko pinggir jalan nunjuk-nunjuk, terus keneknya juga ngeliat-liat, takutnya nanti ternyata bagian belakang rusak parah, akhirnya aku stop juga, keluar mobil.

Dua orang mendekat. Entah kenek dan sopir kali. Mereka cuma bilang "tenang mbak, dak apo-apo mobilnyo." Aku gak kepikiran mau ngoceh atau marah-marah. Cuma bisa jawab, "Nian apo dak apo-apo?" Liat belakang sebelah kiri di atas bumper ternyata ada lecet, tapi gak sampe penyok. Karena lagi buru-buru, udah jam lima lewat, mikirin kuliah udah telat banget, dan karena gak mau ambil pusing, jadi lanjut jalan lagi. Makin bete.

Lagian bus kota, mau diapain? Minta ganti rugi juga gak mungkin. Masa iya minta jatah setoran mereka. Jadi yaudin dehh. Daripada ribut di jalanan ngelawan kenek bus. Nambah hal baru dengan bikin jalanan tambah macet. Gak lucu. Mungkin si kenek dan sopir agak bersyukur karena yang ditabrak cewek. Kalo cowok atau bapak-bapak, mungkin udah jadi ribut. Ggrrrr.

Nyampe kampus, untungnya masih bisa masuk. Dosennya gak marah. Gak sia-sia perjuangannya. Pas balik kuliah, mobil diliat kawan, ternyata bumper belakang juga agak turun sebelah kiri. Aku juga gak ngeh, cuma ngeliat lecetnya doang. Hadeehh...

Jumat berkah. Alhamdulillah masih selamat dan sehat wal'afiat. Tetap berayukur. Lebih hati-hati. Karena walaupun kita udah hati-hati, masih ada bahaya dari luar orang yang gak hati-hati.

Friday, 19 August 2016

Cerpen Fiksi : Dia.Lo.Gue (Dialogue)

Di suatu tempat, pada suatu waktu aku melihat kamu dan dia. Kamu yang tiba-tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan. Dan kini kamu bersamanya. Siapa dia?

Gue : Jadi karena dia? (Aku menatap kamu dan dia bergantian. Wanita dengan dandanan seksi dan kaya. Wanita yang sudah menghancurkan bertahun-tahun hubungan kita dalam sekejap. Lima tahun bersama rusak seketika dalam waktu dua bulan. Kamu hanya menunduk tak berdaya, sementara dia memasang wajah dengan senyum kemenangan.)

Lo : Maaf, dia bisa lebih ngertiin gue. (Kamu memberanikan diri mengangkat wajah menatapku sekilas lalu menatapnya.)

Gue : (Aku menatapmu semakin dalam. Mencoba membaca isi hati dan pikiranmu. Bingung, tak mengerti jalan pikiranmu.) Lalu menurutmu, aku gak pernah mengerti? (Siapa sebenarnya dia? Apa yang membuatmu memilihnya dan meninggalkanku begitu saja. Seksi? Kaya? Jelas aku gak ada apa-apanya. Tapi, serendah itukah?)

Lo : (Kamu kembali menunduk, seakan menyadari alasanmu yang hanya dibuat-buat. Sementara wajahnya semakin membuatku muak.)

Thursday, 11 August 2016

Murid Jaman dulu vs Murid Manja Jaman Sekarang

Lagi heboh-hebohnya masalah guru-murid-orang tua. Murid gak buat PR atau murid gak sopan - guru menghukum - muridnya ngadu ke orang tua - orang tua ngelapor polisi atau nggebukin gurunya. Hemmm. Gak habis fikir dengan orang tuanya. Apa maksudnya coba. Anak manja dan orang tua yang terlalu memanjakan.

Jadi inget jaman SD dan SMP. Dihukum guru mana berani ngadu ortu. Yang ada malah makin dimarahi kali. Waktu SD, pernah dipukul pake penggaris kayu panjang di tangan atau betis. Hanya karena ngerjain tugas 10 soal, cuma bener 7, jadi 3 kali dipukul di tangan. Atau hanya karena kuku panjang. Pernah juga dijewer guru gara-gara ngejahilin temen sebangku. Seingatku cuma itu. Secara anak baik-baik, rajin, pinter, jadi jarang dihukum guru. Hahaha.

Terus jaman SMP. Pernah dijemur rame-rame tengah hari bolong hanya karena gak dateng nyambut presiden di pinggir jalan pas pak presiden dateng mau lewat, sore di luar jam sekolah. Padahal waktu itu beneran gak tau infonya, tapi tetep kena hukum. Pernah juga ditampar guru di pipi, serius ditampar. Pertama kalinya ditampar dan belum pernah lagi sampe sekarang (semoga gak pernah lagi selamanya), hanya karena gak bawa gunting buat potong rumput waktu pembersihan (peralatan yang wajib dibawa pas hari Jumat). Yak, waktu itu hari Jumat, gak ada jam pelajaran, hanya senam, pembersihan kelas, lalu kegiatan ekskul. Habis senam, temen kelas masih nongkrong-nongkrong depan kelas, nyantai-nyantai istirahat, gak langsung mulai pembersihan. Padahal kelas lain sudah pada sibuk nyapu dan lain-lain.


Tuesday, 9 August 2016

Haruskah tau kapan mati, baru mau taubat?

Lagi pengen bahas tentang Fredi Budiman (alm). Agak telat sih ya dari heboh-hebohnya beritanya kemarin. Siapa dia? Bandar narkoba yang udah dipenjara tapi masih bisa mengendalikan perdagangan dari dalam lapas, dan akhirnya dihukum mati beberapa minggu lalu. Sekilas aja, bener kan?

Di dalam Lapas masih bisa mengendalikan jaringan peredaran narkoba. Hemmm. Sebagai bagian dari Kemenkumham dan pernah kerja di Lapas, Lapas Narkotika pula, yaaah agak miris ya dengernya.

Di luar itu semua, aku bukan mau bahas narkoba, atau lapas, atau siapa Fredi dengan lebih detail. Aku juga gak tau. Baca beritanya juga gak pernah sih. Sekarang cuma mau bahas tentang tobatnya Fredi sebelum eksekusi mati.

Sebelum eksekusi, penampilan Fredi nampak begitu Islami denggan peci dan baju koko. Dia itu baru jadi muallaf kan? Banyak yang bilang Fredi sudah insyaf, sudah tobat. Banyak juga yang menduga insyafnya karena udah tau bakalan mati. Nah, bagian inilah yang pengen ku bahas.

Sunday, 7 August 2016

Hijrah Sang Pendosa

[COPAST]

Mungkin ga ada yg menyangka, dia yg dulunya tukang pacaran, ternyata ia kini berbalik arah melawan gaya hidup berpacaran, lalu membuat buku yang mengajak orang-orang agar putus dari maksiat pacaran.

Mungkin juga ga ada yg menyangka, orang yg dulu mencibir muslimah yg menutup aurat itu kuno, ga keren, ga asik, ternyata kini justru dia gencar mengajak orang berhijab, dan juga berjualan hijab.

Mungkin juga dia tak menyangka, dulu ia rutin nongkrong di acara malam, kini rutin seminggu sekali mengikuti kajian Islam.

Mungkin juga dia tak menyangka, dulu begitu bencinya ia pada syariat Islam yg dianggap ketinggalan jaman, kolot, dan bar-bar, namun kini ia menjadi pejuang yg merindukan penerapan Islam yg akan membawa rahmat bagi semesta alam.