Thursday, 21 June 2018

Obrolan sore ini

Lagi nyantai nunggu waktu buka puasa, aku lagi asik main game scrabble di hape, si ibuk nonton tv. Lalu muncul perbincangan yang bagiku menegangkan.
Ibuk : "Tadi mbak (nyebut nama orang kantor) nemui kau dak?"
Aku : "...."
Geleng-geleng kepala doang. Mikirnya mungkin cuma mau nanya masalah gaji atau tunker.
Ibuk : "Katonyo ado ponakannyo nak dikenali. Lagi koas."
Aku : "...."
Degh. Ternyata ini bukan urusan kerjaan. Ini obrolan berat.

Dan selanjutnya pertanyaan yang lebih berat.
Ibuk : "Kau ni lah ado kawan belum, yang deket?"
Aku : "...."
Dan kembali cuma bisa geleng-geleng kepala. Pura-pura fokus dengan hape, padahal udah bingung kalo obrolan makin berlanjut.
Ibuk : "Tadi mbak *sensor* ngomong, ibuk suruh ngomong langsung bae dengan kau. Terserah kau tu lah."

Dan obrolan selesai. Aku gak tau mau respon apa lagi. Sayangnya memang lagi gak ada temen deket. Lagipun kalo lagi ada yang deket, akankah aku berani nganggukin kepala jawab iya? Entahlah. Rasanya obrolan ini masih sangat berat untuk diceritakan.

Sepertinya beban ibuk kini mulai berubah. Dulu beberapa tahun lalu sempat uring-uringan karna si Masbro, yang kuliahnya nyaris DO. Tapi Alhamdulillah tahun lalu akhirnya wisuda. Doa ibuk  tentu mempunyai andil besar. Alhamdulillah lagi, kini Mas juga sudah mendapat pekerjaan tetap. Lepas lah satu beban.

Dan kini sepertinya beban itu beralih padaku. Tentang jodohku. Sebenernya Mas pun belum berkeluarga, belum pernah juga bawa teman ke rumah. Tapi Mas sepertinya dianggap belum siap. Kerjanya juga masih baru. Dan juga masalah usia bagi wanita lebih riskan dibanding pria. Usiaku tahun ini sudah seperempat abad. Dan Mas hanya terpaut setahun di atas.

Sebenernya bukan aku gak pernah usaha. Aku juga gak pernah menutup diri. Lagipula bagiku usaha terbaik bukannya justru dekat cowok sana-sini. Tapi justru memantaskan diri agar Allah kasih jodoh yang sebanding. Aku mau yang terbaik. Akidahnya, akhlaknya.

Ketika standar agama bagiku sudah semakin meningkat. Gak sekedar Islam, gak sekedar sholat. Tapi yang beribadah sesuai tuntunan syariat dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Aku ingin membangun keluarga berlandaskan Al Quran dan Sunnah. Aku tau mungkin ini akan sulit. Maka dari itu aku memantaskan diri, agar aku pantas bersama jodoh seperti yang kuingin.

Kini hanya doa lah senjata yang dipegang. Aku butuh doamu juga buk. Kita hanya bisa menanti sampai Allah mengijabah doa, sekaranglah waktu bagiku. Sampai nanti suatu saat aku mengenalkan seorang teman ke ibuk dan ayah, semoga itu bener-bener yang udah serius, bukan yang hanya main-main. Semoga disegerakan. Begitu juga buat Mas. 

Wednesday, 20 June 2018

Tentang Doa dan Jodoh

Di usia yang sekarang, jodoh memang menjadi keinginan yang selalu disebut dalam doa.
Selain mendoakan kedua orang tua, keselamatan dunia akhirat, rezeki yang halal lagi barokah, serta hidayah, dan lain-lain.
Kala meminta jodoh, terkadang kita mungkin menyimpan harapan pada sebuah nama.
Lalu haruskah menyebutnya dalam doa?
Namun aku rasanya tak berani.
Hanya tak yakin apa benar nama itu adalah yang terbaik.
Seandainya bukan, tidakkah akan menjadi kecewa?
Jadi pintaku hanya memohon dipertemukan dengan jodoh yang terbaik, siapapun itu.
Tentunya Allah lah yang Maha Mengetahui.
Ataukah memang lebih baik disebutkan, agar Allah yang menjadikannya baik bagi kita?
Agar Allah yakin atas kesungguhan kita kepada seseorang yang selalu ada dalam angan?
Entahlah.
Tentunya Allah yang Maha Tahu apa yang kita butuhkan.
Allah tau apa yang terbaik bagi kita.
Dan Allah yang paling tau waktu yang paling tepat.
Yang penting jangan pernah berhenti berdoa.
Allah pasti tau harapan kita pada nama itu, disebut ataupun tidak.
Jangan lelah.
Memantaskan diri selagi menanti Allah kirim jodoh yang selalu kita pinta dalam doa.
Insyaallah disegerakan ya. ^_^

Sunday, 17 June 2018

Janji Manis atau Janji Konyol ?

Terinspirasi dari kisah di instagram stories @sundarihana yang lebih dikenal sebagai bulek Hana, buleknya si Kirana @retnohening, tentang Janji Manis dari seseorang di masa lalunya jaman SMA. Kejadiannya delapan tahun silam, tahun 2010, seorang teman berjanji akan datang melamar ke rumah menemui orang tuanya pada tahun 2018. Terdengar manis kan, apalagi bagi cewek-cewek yang masih berseragam putih abu-abu. Tentulah kalimat itu menumbuhkan benih-benih virus merah jambu.

Skip. Ini bukan kisah tentang mereka. Kali ini tentang Dinda dan Rian (nama disamarkan, kwkwk). Dengan janji manis yang serupa tapi tak sama. Entahlah ini bisa disebut janji manis juga atau bukan. Kejadiannya belum terlalu lama. Tiga tahun silam. Dulu mereka sempat dekat. Lalu kemudian menjauh begitu saja.

Malam itu Rian minta tolong sesuatu. Dinda pun bertanya minta tolong apa, kalau bisa ya dibantu. Dinda bener-bener gak kepikiran maksudnya minta tolong apa. Dan ternyata Rian minta tolong untuk jaga jarak. Sebenernya mereka gak benar-benar dekat, hanya komunikasi yang terlalu intens. Dan Rian gak mau ini berlarut semakin jauh karena mereka sama-sama berprinsip untuk menjaga diri dari lawan jenis. Dan Dinda sependapat, yang Rian bilang memang benar.

Malam itu mulai terbuka sedikit "rahasia" tentang perasaan. Rian menyebutnya dengan istilah rahasia. Dia mengungkapnya dengan kata-kata yang halus, "tahap nyaman". Dia takut rasa nyaman ini kebablasan jadi rasa yang seharusnya belum boleh ada. Karena dia belum siap untuk melangkah ke arah yang lebih serius. Jadi lebih baik jaga jarak dulu sampai diri masing-masing siap dan pantas.

Wednesday, 13 June 2018

Cerpen fiksi : Berakhir di sini

Berakhir Di Sini


Aku duduk sendirian di keramaian ruang tunggu bandara. Penerbanganku masih tiga puluh menit lagi. Berkali-kali aku membuka smartphone, mencari nama seseorang di Whatsapp, mengetikkan beberapa kalimat. Tapi kemudian kuhapus dan kututup lagi smartphoneku. Haruskah aku mengabarinya atau menunggu setelah sampai disana atau tidak sama sekali?

Aku akan berangkat liburan ke tempat pamanku di desa, dulu rumah kakek dan nenek juga. Tapi karena mereka sudah tiada, pamanku yang tinggal disana sekarang. Aku minta ijin bunda untuk liburan sendirian. Untungnya bunda mengijinkan karena tujuanku bukan tempat asing, hanya ke desa kelahirannya dan hanya tiga hari disana. Aku butuh udara segar desa menjauh dari kebisingan kota dan rehat sejenak dari penatnya pekerjaan. Benarkah ini tujuan sebenarnya? Atau aku justru mau menemui seseorang? Yang membuatku berulang kali membuka smartphoneku saat ini.

Panggilan untuk boarding sudah terdengar. Para penumpang lain sudah terlihat mengantri di depan gate keberangkatan. Aku masih duduk menatap Whatsapp. Sudah ada beberapa kalimat diketik. Jariku lama terdiam di atas tombol kirim. Antrian gate tinggal sedikit lagi. Kulihat lagi kata-kata yang sudah kuketik di layar. Kemudian kuberanikan diri menekan tombol kirim. Tanda centang dua. Segera kumatikan smartphone dan berlari menuju antrian sebelum namaku dipanggil lewat pengeras suara.

"Hai, apa kabar? Cuma mau ngabarin, hari ini aku berangkat  ke Solo."

Pesan itu telah terkirim padanya. Seorang teman jauh yang hampir setahun ini menjauh tanpa kabar. Aku mengenalnya setahun lalu saat perjalanan dinas kantor ke Solo. Kami bertemu hanya tiga hari dalam sebuah kegiatan. Lalu perkenalan ini berlanjut melalui sosial media, Whatsapp, video call, dan berbagai cara komunikasi jarak jauh lainnya. Dalam beberapa bulan kami menjadi semakin dekat. Dekat lewat kata-kata. Hingga kemudian semuanya berhenti begitu saja. Dan aku tak pernah berani menanyakan kenapa.

Sunday, 10 June 2018

TB Tulang, My Sick My Adventure (Part 3 - End)

Kembali melanjutkan kisah lama. Udah lewat setahun, tapi ceritanya ga rampung-rampung. Mumpung kali ini niat nulis lagi ada. Berikut ini link sebelumnya:

Ujian Berat di Ruang ICU

Aku terbangun tersentak, selang yang masuk lewat mulut terasa menutup tenggorokan, membuatku sesak, susah untuk bernafas. Aku belum bisa menyesuaikan diri dengan alat bantu pernafasan yang terpasang. Badanku meronta tapi tangan kakiku gak bisa digerakkan. Aku masih setengah sadar, mataku belum benar-benar terbuka. Tapi aku bisa mendengar suara-suara dokter dan perawat yang menyuruhku tenang.

Dokter : Tenang, nafas kayak biasa. Nafas aja. Jangan ditelen selangnya.

Dengan kondisi masih setengah sadar, lemah, dan kesakitan, dalam hati mendadak emosi denger dokter yang masih sempatnya bercanda makan selang. Dalam hati rasanya teriak "Ya Allah gimana mau nafas, nyangkut di tenggorokan, sakit." Air mata mulai mengalir. Setelah beberapa lama, akhirnya aku mulai bisa menyesuaikan diri bernafas denan alat. Aku mulai tenang. Tapi tetap terasa sakit karena selang yang nyangkut di tenggorokan.

Saat kondisiku sudah mulai benar-benar sadar. Aku mulai bisa melihat kondisi ruangan. Pikiranku mulai menyebar kemana-mana. Berbagai pertanyaan muncul di benakku. Inikah ruang ICU? Mana ibu ayah? Apa aku jadi dioperasi? Aku kembali mengingat-ingat detik-detik terakhir sebelum operasi, kata-kata dokter anestesi. Kenapa aku tiba-tiba gak sadar? Bagaimana? Kapan dokter ngebius? Aku bener-bener gak ngeliat sama sekali. Yang kuinget hanya setelah kata-kata dokter itu, tiba-tiba aku langsung terbangun tersentak disini. Beneran sudah dioperasi? Kok gak ada rasa apa-apa? Kok gak ada sakit/perih? Kenapa kaki dan tanganku gak bisa diangkat? Apa masih lemah pengaruh bius? Hari apa ini? Jam berapa sekarang? Sudah berapa lama aku disini?

Setiap terbangun dari tidur, aku selalu kepikiran ini hari apa? Terdengar suara samar ngaji, mungkin dari mushola di sekitar. Membuat suasana seolah sebelum sholat Jumatan. Entahlah, aku selalu kepikiran ini hari junat siang. Benarkah aku sudah 3 hari disini? (Padahal mungkin suara radio ngaji itu karena ini bulan Ramadhan).

Setiap pagi, perawat membasuh badan dan mengganti popok. Saat itu aku baru sadar ternyata tangan dan kakiku diikat, pantes aja aku gak bisa ngangkat kaki dan tangan, bukan pengaruh bius ternyata.
Perawat : Ini iketannya dilepas, tapi jangan nyabut alat ya.

Tiba waktunya jam besuk, saat itu aku masih belum tau jam dan hari. Ada ibuk, ayah, mas, pakde, bude masuk sendiri-sendiri secara bergantian. Aku cuma bisa menatap mereka, belum sanggup bicara. Mungkin karena kondisi yang masih lemah, membuat suara yang keluar hanya bisik angin saja. Wajah-wajah mereka nampak letih, tapi juga berusaha nampak kuat di hadapanku untuk menguatkanku. Tak banyak kata-kata, hanya dzikir yang mereka bacakan untukku. Tapi sayangnya waktu besukan tak lama. Melepas ibuk keluar membuatku sangat sedih.

Satu atau dua hari setelah sadar, dokter melepas selang alat bantu pernafasan yang masuk lewat tenggorokan. Sakiiit. Benar-benar terasa sakit. Ya Allah cobaan apa lagi ini. Bahkan saat sudah dilepas tenggorokanku masih terasa sakit. Saat-saat seperti ini rasanya bener-bener gak sanggup. Tapi kemudian inget kata-kata ibuk dulu sebelum operasi. "Aku harus kuat, pasti kuat. Dzikir terus sama Allah. Gak boleh ngelamun"

Gak banyak yang bisa dilakukan. Aku cuma bisa menatap langit-langit ruangan. ngeliat perawat nyuntik obat atau morfin. Ngasih makan cairan mirip susu lewat selang yang masuk lewat hidung. Membosankan. Gak ada keluarga yang menemani. Suara ruangan benar-benar berisik oleh perawat yang hahahihi. Membuatku jadi sangat emosi. Dalam hati marah "Woy, gak mikir apa disini orang sakit, sekarat, butuh banyak istirahat. Kalian ketawa ngakak, ngoceh berisik". Astaghfirullahal'adzim. Tanganku mulai mengepal kesal. Kupejamkan mata. Istighfar berkali-kali. Inget pesan ibuk dulu lagi saat aku kesel karena berisik ngorok ayah. "Jangan dibawa emosi, jangan dibawa kesel. Istighfar terus. Astaghfirullahal'adzim."

Hari kesekian di ICU. Saat itu malem. Suasana sepi, perawat pada istarahat. Mungkin hanya ada 1 atau 2 dokter dan perawat. Mungkin gantian jaga. Ada suara lagu yang diputer mungkin dari hape. Mungkin supaya dokter/perawat yang jaga gak ngantuk. Tapi jelas itu justru mengganggu pasien. Saat itu semua rasa bercampur baur. Kesal, marah, sedih, lelah, rindu. "Ibuuuk.... ibuuukkk....". Aku menangis, berharap ibuk ada disini. Menemaniku sampai aku tertidur.

Aku benar-benar merasa ini ujian berat. Dan 2 minggu penantian jadwal operasi itu adalah waktuku untuk belajar.  Seolah saat ujian sekolah, apa yang pernah dipelajari kemarin muncul semua di soal ujian, jadi aku harus bisa menjawabnya. Semua yang pernah kurasakan disana, kurasakan kembali disini. Tapi disini aku sendiri. Gak ada nasehat ibuk, ayah, pakde, bude. Gak ada yang menguatkan. Aku sendiri, hanya mengenang-ngenang kembali setiap pesan-pesan yang dulu pernah mereka sampaikan untuk menguatkanku. Aku ingin keluar dari sini. Besok saat besukan harus kusampaikan ke ibuk. Aku sudah gak sanggup disini.