Friday, 11 May 2018

Tulisan GaJe tengah malam

Malem rabu kemarin, tetiba menggalau. Buka blogger, liat-liat draft, dan menemukan copyan kumpulan chit-chat lama, (hampir 3 tahun yang lalu) yang amat sangat panjang, dari pertama kali mulai sampai beberapa bulan selanjutnya. Dan kegalauan semakin menjadi. Tetiba ketawa-tawa, lalu sedih juga, bahkan nangis. Lalu tetiba jadi semangat kembali. Seolah ada suntikan harapan. Bukan berharap. Hanya saja.... hemm.... entahlah. Yahh, bisa dibilang mengharap juga. Tapi yasudahlah.

Sunday, 29 April 2018

Puisi : Benteng Pasir

Benteng Pasir

Benteng yang kau bangun
Yang selama ini kau kira kokoh
Ternyata hanyalah tumpukan pasir di tepi pantai
Seketika ombak datang, meluluhlantakkan
Ombak itu nampak bergulung-gulung indah
Tapi tetap saja, lihatlah, bentengmu hancur tak bersisa

Saturday, 28 April 2018

Puisi dari teman jauh

Kamu naik becak saja
Aku pakai sepeda
Lalu mau kemana?
Kita berjalan belum lama
Belum tau ujungnya
Kemana? Akankah kamu kembali ke Jogja?
Yang tau hanya Allah subhanahu wata'ala

Wonosari, 25 April 2018
Senopati Muda Nusantara

Puisi : Membosankan

Semilir angin berhembus
Bukan hembusan udara
Hanya kipas tua yang berputar dengan agak bising
Detak jam di dinding
Juga nyamuk-nyamuk kecil yang menyebalkan
Seolah beradu mengisi sepi
Tapi tetap saja
Sunyi

Menatap langit-langit putih yang sedikit bernoda
Rembesan air hujan
Sayangnya, tak semenarik langit malam berbintang
Membosankan
Akhirnya mulai lelah
Mencoba pejamkan mata
Gelap
Pekat
Sayangnya, sunyi yang tadi masih tetap saja ada

Tuesday, 3 April 2018

Puisi : Marah atau Kecewa

Entah marah atau kecewa
Ada perih yang terasa
Berulang kali mendera
Jangan tanya kenapa
Aku pun tak dapat menjelaskannya
Karenamu atau bukan
Lagipula rasanya aku tak pantas
Bukan hak ku menumpahkan amarah
Padamu yang tak merasa
Maka lebih baik diam
Karna perih ini tak beralasan
Jangan tanya kenapa
Jawabannya tetap tidak ada
Hanya butuh waktu tuk menenangkan
Atau justru kamu
Yang ku butuhkan....

Monday, 5 March 2018

Puisi dari teman jauh

Untittled

Tiara kau bidadari surga
Kau adalah satu dari seribu
Bahkan sepuluh ribu
Atau mungkin ratusan ribu
Kau jaga apa yang harus dijaga
Kau pelita dalam gelap gulita
Kau wanita idaman pria perindu surga
Tiara teruslah istiqomah menjaga marwah
Menggapai ridho Allah Subhanahu wata'ala
Dalam doa ku berkata selamat dunya wal akhirah

NN (4 Maret 2018)

Monday, 11 December 2017

TB Tulang, My Sick My Adventure (Part 2)

Melanjutkan kisahku sebelumnya yang terputus lamaaaa (maklum, niat dan mood menulis yang makin memudar). Link sebelumnya >> TB TULANG Part 1 <<

Penderitaan yang Tiada Henti

Malam itu juga, Rabu 17 Mei 2017, setelah dari klinik dokter bedah saraf, aku langsung dirujuk ke IGD RSUP Prof. Dr. M. Hoesin Palembang. Suasana yang jauh berbeda dengan IGD rumah sakit yang dulu. Disini sangat ramai antrian. Tapi dengan surat rujukan yang kubawa, aku bisa langsung masuk. Disinilah penderitaan itu dimulai.

Datang suster yang akan mengambil sampel darah. Tusukan pertama, gagal. Dan baru berhasil di tusukan kedua. Lanjut lagi datang koas untuk pasang infus. Koas pertama, mencoba di punggung tangan kiri, gagal. Tangan langsung bengkak besar, terasa ngilu dan kaku. Ganti koas kedua, nusuk di pergelangan bagian samping tangan kiri. Dua kali tusukan, masih gagal. Ya Allah, rasanya pengen teriak "hei kalian pikir aku kelinci percobaan, jadi bahan tusuk-tusukan!". Tapi apadaya gak ada tenaga. Selanjutnya dipanggil suster yang tadi ambil darah. Langsung dalam hati berpikir "Yah, dia lagi. Tadi aja nusuk dua kali". Dan ternyata benar, dia gagal lagi. Nusuk di punggung tangan kanan, dan darahnya malah ngucurr deras. Terakhir datang residen. Setelah nanya "kenapa ini?", terus dia pegang tangan kanan, nusuk bagian samping pergelangan tangan kanan, dan berhasil. Alhamdulillah. Masang infus aja udah serasa cobaan berat.

Posisiku masih di IGD. Belum boleh pindah ke kamar. Mungkin karena sudah terlalu malam, jadi harus menunggu besok pagi. Suasana IGD yang hiruk pikuk membuatku gak bisa tidur sama sekali. Ditambah lagi aku hanya boleh terlentang dan gak boleh banyak gerak, terutama bagian leher. Lelah. Sakit. Ngantuk. Tapi gak bisa tidur. Cuma nangis semaleman. Mata sudah bengkak sembab. Waktu terasa berjalan sangaatt lama.

Keesokan paginya yang sudah ditungu-tunggu begitu lama. Akhirnya aku boleh pindah ke kamar. Sebelumnya ke bagian radiologi untuk rontgen torax. Sesampainya di kamar, aku harus diangkat untuk dipindahkan dari ranjang IGD ke ranjang kamar. Harus hati-hati karena mempertahankan posisi leherku tetap lurus dan gak bergerak.

Bedrest total. Segala aktivitasku dilakukan di atas ranjang. Makan, minum, BAB, BAK, sholat, dll cuma bisa posisi terlentang. Dokter bilang akan menjadwalkan operasi minggu depan. Harus terlentang begini semingguan. Ya Allah, baru sehari aja rasanya sudah capek. Gak sanggup kek gini terus. Pengen balik badan, miring kanan-kiri. Malam kedua, di kamar yang nyaman, tapi tetap aja gak bisa tidur. Cuma nangis (lagi). Ngeluh sama ibuk "Capek buuuk". Ibuk tetep sabar nemenin sampe aku bisa tidur. Malem ketiga, bukan hanya lelah tapi bertambah masalah baru, yaitu kegerahan. Malem keempat, penderitaan kembali bertambah, yaitu gatal. Yah, punggung gak pernah bergerak dan dalam kondisi lembab jadi bikin gatel-gatel. Dan semua keluh-kesah itu berakhir di ibuk. Ibuk selalu nasehati, "Jangan ngeluh, dzikir bae terus. Lama-lama nanti capek, ngantuk, terus bisa tidur". Sambil ngipas-ngipasin dan ngelus-ngelus badanku yang gatel.

Sering juga malem-malem susah tidur karena berisik. Berisik bunyi ngorok!! Ayah, ibuk, dan mas semua tidur di rumah sakit. Dan ayah itu ngorok parah. Dongkol, kesel, marah, bahkan benci. Aku tidur harus dengan susah payah ditambah bunyi berisik yang mengganggu. Tapi tetep aja ibuk yang selalu nenangin. Walau nampak sangat ngantuk, tetap bertahan menemaniku. "Jangan dibawa kesel. Harus tenang, harus ikhlas. Kalo dalam hati ini nyimpen dongkol, kesel, marah, malah makin jadi ngerasa gatellah, gerahlah, berisiklah".

Perjuangan tidur yang berat setiap malam. Dan saat siang makin mengenaskan. Kondisiku terlihat begitu menyedihkan. Saat itu aku seperti kehilangan separuh semangatku. Hanya berbaring terlentang menatap langit-langit. Orang-orang yang datang menjenguk, ngajakin ngobrol menyemangati, gak sanggup kurespon. Males ngobrol. Gak bisa lagi ikut ketawa. Hanya terdiam. Lelah. Lelah karena posisi yang gak berubah-ubah, lelah karena kurang tidur, lelah karena tiap malam nangis, dan lelah hati dan pikiran yang gak berenti-berenti.

Pakde, bude yang datang menjenguk selalu menasehati, "Gak boleh ngelamun. Dzikir terus, inget Allah. Dedek harus kuat. Ingetlah nak, semuanya nanti pasti ada hikmahnya. Inget dak dulu waktu Dedek dak lulus STIS? Dedek kecewa, kita semua bersedih. Tapi ternyata Allah ganti yang lebih baik lagi. Selesai kuliah langsung lulus PNS, penempatan disinilah. Dak mental jauh di tempat lain. Inget, kita harus selalu bersyukur. Allah kasih penyakit, tapi Allah kasih jalan untuk sembuh. Ada ibuk ayah yang siap biaya. Diluar sana banyak yang sakit tapi dak punya apa-apa, dak bisa berobat". Setiap dinasehati, air mata ini selalu menetes tak dapat tertahan lagi. Aku ingin bersikap seperti biasa, bersemangat, ceria. Tapi entahlah, rasanya tubuh ini kehilangan semuanya. Sudah terlalu lelah untuk sekedar bicara, apalagi tertawa.
.
.
.
****Publish separoh dulu, nanti edit lagi****