Saturday, 15 October 2016

Pindah

15 Oktober tepat setahun lalu, pindah ke tempat baru. Sesungguhnya bukan tempat yang baru, karena dari kecil sudah biasa kesitu. Kuliah juga magang disitu.
Suasana baru. Lingkungan baru. Teman-teman baru. Tugas-tugas baru. Beban baru. Adaptasi lagi. Gelisah, takut, sedih, kesal, marah, benci, pasrah.
Terpaksa. Dipaksa. Sudah ikhlas? Entahlah. Masih berusaha menerima. Banyak pelajaran didapat setelah semua rasa sakit itu perlahan tertutup.
Tertutup? Atau hilang? Entahlah. Ada hikmah di balik setiap kejadian. Masih mencoba mengumpulkan setiap kepingan hikmah untuk menutup luka.
Terima kasih saat itu ada yang menemani dan menasehati. Mengisi waktu saat gelisah, takut, bingung, dan sendirian, membunuh bosan. Yang menguatkanku untuk ikhlas. Terima kasih meski sekarang ia telah pergi menjauh.
Sekarang tepat setahun berlalu. Setahun yang penuh pelajaran dan pengalaman baru. Berbeda antara tempat lama dan baru. Sama-sama mengajarkanku.
Dan kebetulan nota dinas akan segera benar-benar menjadi SK. Akan benar-benar pindah. Sah. Tak lagi menjadi bagian dari tempat lama. Tapi semuanya takkan terlupa.
Mungkin ada satu hal yang tak bisa lagi kurasakan. Kebanggaanku menjadi bagian dari Polsuspas. Dengan bangga kusebut kerja di Lapas. Tak bisa lagi.
Meski tempat sekarang masih sangat berhubungan, bahkan lebih tinggi naungannya, di Kanwil. Tapi entahlah, tak se-special menjadi pegawai Lapas, menjadi Polsuspas.
Tapi di kanwil, banyak juga pengalaman baru yang (mungkin) tak bisa kudapat di tempat lama. Aku bisa keliling ke lapas rutan di daerah, bisa berangkat ke kota lain kegiatan dari pusat, dan yang paling berharga ilmu agamaku bertambah karena bersama teman-teman yang sedang belajar mengikuti sunnah. Alhamdulillah.
Semua tempat sama. Bersyukurlah. Ikhlaslah. Insya Allah. Terima kasih untuk semuanya. Tempat baru dan lama. Terima kasih juga untuk yang memaksa.
Aku tau ini semua demi kebaikanku. Meski kau mengabaikan penolakan kerasku. Maaf hingga sekarang aku masih belajar ikhlas menerima keputusanmu. Terima kasih Ibu. Maafkan aku.

The Meaning of Life

Summary of Video "The Meaning of Life" Muslim Spoken Words

By: Talk Islam
Source: https://m.youtube.com/watch?v=7d16CpWp-ok

These are just simple life questions.
Like, “What are we doing here?” and, “what is our purpose?”
“How did we get here?” and, “Who made us so perfect?”
And, “What happens once we go?” or, “Is this world all really worth it?”
There’s no purpose to this life and our existence is merely natural (?)
Then in that case, please let me ask you. Did you create yourself or is it someone else who had fashioned you?
So many signs, yet we still deny.
Science tries to justify that all this could come from none. When it’s a simple sum: 0+0+0 cannot possibly ever give you one.
So from where did all this order come?

Saying we will live then die then simply turn to bones.
Y.O.L.O (You Only Live Once) (?)
Correction.
After the grass dies, the rain arrives and it re-grows. And Allah promises to do the same thing to your every soul.
And we are surely being tested, in our wealth, our health, and our self, and everything that we’ve been blessed with.
So believe, for we will surely be resurrected. And be brought back to our Lord and account for every single deed.
From the bad to the good and everything in between. You yourself are sufficient for your own accountability.

If you disbelieve, Read!
And don’t let that day (The Death) be the first day you find out what your life really means.
Read!

Ditabrak Bus Kota

Kemarin pulang kantor jam setengah lima lewat. Buru-buru berangkat kuliah, udah telat. Inget kata temen, kalo dosen MK hari Jumat gak boleh dateng telat.

Nungguin ibu masih apel, dari jam empat sampe setengah lima belum selesai. Kayaknya Pak Kakanwil ngoceh panjang. Btw aku gak ikut apel, karena pas bunyi bel aku lagi di mushola, baru mau sholat Ashar. Karena takut makin telat kuliah, jadi aku pulang ninggalin ibu.

Sepanjang jalan macet padat merayap. Padahal kemaren-kemaren, macet akibat pembangunan LRT udah agak mendingan. Huh, cobaan banget, tau lagi buru-buru, tumben banget macetnya bertambah. Bete.

Mobil lagi posisi diem karena cuma bisa dikit-dikit banget, tiba-tiba denger bunyi gedubraakk. Aku langsung ngeliat bawah kursi depan kanan kiri, gak ada apa-apa. Mikirnya ada sesuatu barang yang jatoh. Masih mikir di belakang ada barang apa yang jatoh. Pas noleh, ternyata bus kota udah nempel. Astaghfirullah... Ternyata ditabrak. Ck.ck. Slow respon. Ngeh-nya telat bangettt. Gak nyadar bahaya dari luar, malah cuma kepikiran ada sesuatu jatoh di dalam mobil.

Entah terlalu lemot, atau karena udah bete macet dan buru-buru telat kuliah, atau memang karena belum pengalaman. Sampe bingung mau turun atau gak. Tapi karena liat bapak-bapak di ruko pinggir jalan nunjuk-nunjuk, terus keneknya juga ngeliat-liat, takutnya nanti ternyata bagian belakang rusak parah, akhirnya aku stop juga, keluar mobil.

Dua orang mendekat. Entah kenek dan sopir kali. Mereka cuma bilang "tenang mbak, dak apo-apo mobilnyo." Aku gak kepikiran mau ngoceh atau marah-marah. Cuma bisa jawab, "Nian apo dak apo-apo?" Liat belakang sebelah kiri di atas bumper ternyata ada lecet, tapi gak sampe penyok. Karena lagi buru-buru, udah jam lima lewat, mikirin kuliah udah telat banget, dan karena gak mau ambil pusing, jadi lanjut jalan lagi. Makin bete.

Lagian bus kota, mau diapain? Minta ganti rugi juga gak mungkin. Masa iya minta jatah setoran mereka. Jadi yaudin dehh. Daripada ribut di jalanan ngelawan kenek bus. Nambah hal baru dengan bikin jalanan tambah macet. Gak lucu. Mungkin si kenek dan sopir agak bersyukur karena yang ditabrak cewek. Kalo cowok atau bapak-bapak, mungkin udah jadi ribut. Ggrrrr.

Nyampe kampus, untungnya masih bisa masuk. Dosennya gak marah. Gak sia-sia perjuangannya. Pas balik kuliah, mobil diliat kawan, ternyata bumper belakang juga agak turun sebelah kiri. Aku juga gak ngeh, cuma ngeliat lecetnya doang. Hadeehh...

Jumat berkah. Alhamdulillah masih selamat dan sehat wal'afiat. Tetap berayukur. Lebih hati-hati. Karena walaupun kita udah hati-hati, masih ada bahaya dari luar orang yang gak hati-hati.

Friday, 19 August 2016

Cerpen Fiksi : Dia.Lo.Gue (Dialogue)

Di suatu tempat, pada suatu waktu aku melihat kamu dan dia. Kamu yang tiba-tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan. Dan kini kamu bersamanya. Siapa dia?

Gue : Jadi karena dia? (Aku menatap kamu dan dia bergantian. Wanita dengan dandanan seksi dan kaya. Wanita yang sudah menghancurkan bertahun-tahun hubungan kita dalam sekejap. Lima tahun bersama rusak seketika dalam waktu dua bulan. Kamu hanya menunduk tak berdaya, sementara dia memasang wajah dengan senyum kemenangan.)

Lo : Maaf, dia bisa lebih ngertiin gue. (Kamu memberanikan diri mengangkat wajah menatapku sekilas lalu menatapnya.)

Gue : (Aku menatapmu semakin dalam. Mencoba membaca isi hati dan pikiranmu. Bingung, tak mengerti jalan pikiranmu.) Lalu menurutmu, aku gak pernah mengerti? (Siapa sebenarnya dia? Apa yang membuatmu memilihnya dan meninggalkanku begitu saja. Seksi? Kaya? Jelas aku gak ada apa-apanya. Tapi, serendah itukah?)

Lo : (Kamu kembali menunduk, seakan menyadari alasanmu yang hanya dibuat-buat. Sementara wajahnya semakin membuatku muak.)

Thursday, 11 August 2016

Murid Jaman dulu vs Murid Manja Jaman Sekarang

Lagi heboh-hebohnya masalah guru-murid-orang tua. Murid gak buat PR atau murid gak sopan - guru menghukum - muridnya ngadu ke orang tua - orang tua ngelapor polisi atau nggebukin gurunya. Hemmm. Gak habis fikir dengan orang tuanya. Apa maksudnya coba. Anak manja dan orang tua yang terlalu memanjakan.

Jadi inget jaman SD dan SMP. Dihukum guru mana berani ngadu ortu. Yang ada malah makin dimarahi kali. Waktu SD, pernah dipukul pake penggaris kayu panjang di tangan atau betis. Hanya karena ngerjain tugas 10 soal, cuma bener 7, jadi 3 kali dipukul di tangan. Atau hanya karena kuku panjang. Pernah juga dijewer guru gara-gara ngejahilin temen sebangku. Seingatku cuma itu. Secara anak baik-baik, rajin, pinter, jadi jarang dihukum guru. Hahaha.

Terus jaman SMP. Pernah dijemur rame-rame tengah hari bolong hanya karena gak dateng nyambut presiden di pinggir jalan pas pak presiden dateng mau lewat, sore di luar jam sekolah. Padahal waktu itu beneran gak tau infonya, tapi tetep kena hukum. Pernah juga ditampar guru di pipi, serius ditampar. Pertama kalinya ditampar dan belum pernah lagi sampe sekarang (semoga gak pernah lagi selamanya), hanya karena gak bawa gunting buat potong rumput waktu pembersihan (peralatan yang wajib dibawa pas hari Jumat). Yak, waktu itu hari Jumat, gak ada jam pelajaran, hanya senam, pembersihan kelas, lalu kegiatan ekskul. Habis senam, temen kelas masih nongkrong-nongkrong depan kelas, nyantai-nyantai istirahat, gak langsung mulai pembersihan. Padahal kelas lain sudah pada sibuk nyapu dan lain-lain.


Tuesday, 9 August 2016

Haruskah tau kapan mati, baru mau taubat?

Lagi pengen bahas tentang Fredi Budiman (alm). Agak telat sih ya dari heboh-hebohnya beritanya kemarin. Siapa dia? Bandar narkoba yang udah dipenjara tapi masih bisa mengendalikan perdagangan dari dalam lapas, dan akhirnya dihukum mati beberapa minggu lalu. Sekilas aja, bener kan?

Di dalam Lapas masih bisa mengendalikan jaringan peredaran narkoba. Hemmm. Sebagai bagian dari Kemenkumham dan pernah kerja di Lapas, Lapas Narkotika pula, yaaah agak miris ya dengernya.

Di luar itu semua, aku bukan mau bahas narkoba, atau lapas, atau siapa Fredi dengan lebih detail. Aku juga gak tau. Baca beritanya juga gak pernah sih. Sekarang cuma mau bahas tentang tobatnya Fredi sebelum eksekusi mati.

Sebelum eksekusi, penampilan Fredi nampak begitu Islami denggan peci dan baju koko. Dia itu baru jadi muallaf kan? Banyak yang bilang Fredi sudah insyaf, sudah tobat. Banyak juga yang menduga insyafnya karena udah tau bakalan mati. Nah, bagian inilah yang pengen ku bahas.

Sunday, 7 August 2016

Hijrah Sang Pendosa

[COPAST]

Mungkin ga ada yg menyangka, dia yg dulunya tukang pacaran, ternyata ia kini berbalik arah melawan gaya hidup berpacaran, lalu membuat buku yang mengajak orang-orang agar putus dari maksiat pacaran.

Mungkin juga ga ada yg menyangka, orang yg dulu mencibir muslimah yg menutup aurat itu kuno, ga keren, ga asik, ternyata kini justru dia gencar mengajak orang berhijab, dan juga berjualan hijab.

Mungkin juga dia tak menyangka, dulu ia rutin nongkrong di acara malam, kini rutin seminggu sekali mengikuti kajian Islam.

Mungkin juga dia tak menyangka, dulu begitu bencinya ia pada syariat Islam yg dianggap ketinggalan jaman, kolot, dan bar-bar, namun kini ia menjadi pejuang yg merindukan penerapan Islam yg akan membawa rahmat bagi semesta alam.

Thursday, 28 July 2016

Lirik Lagu : Halaqah Cinta - Kang Abay

Halaqah Cinta


Ribuan malam menatap bintang dan harapan
Dan ribuan siang menahan terik penantian
Mungkin Tuhan ingin kita sama-sama tuk mencari
Saling merindukan dalam doa-doa mendekatkan jarak kita


Tuhan pertemukan aku dengan kekasih pilihan
Seseorang yang mencintai-Mu, mencintai Rosul-Mu
Di Multazam ku meminta


Ribuan pagi menatap terbit matahari
Dan ribuan senja menahan gemuruh di dada
Mungkin Tuhan ingin kita sama-sama tuk mencari
Saling merindukan dalam doa-doa mendekatkan jarak kita


Tuhan pertemukan aku dengan kekasih pilihan
Seseorang yang mencintai-Mu, mencintai Rosul-Mu
Di Multazam ku meminta

Hingga malaikat pun tesenyum mendoakan kita
Menguatlah keyakinan di hati


Tuhan pertemukan aku dengan kekasih pilihan
Seseorang yang mencintai-Mu, mencintai Rosul-Mu
Di Multazam ku meminta


Tuhan persatukan aku dengan kekasih pilihan
Seseorang yang kan menemaniku, menuju syurga-Mu
Halaqah cinta, tempat hati bertemu

Halaqah cinta, tempat hati bersatu....


[YOUTUBE : HALAQAH CINTA - KANG ABAY] 

Lirik Lagu : Jodoh Dunia Akhirat - Kang Abay

Jodoh Dunia Akhirat


Ku merayu pada Allah yang tahu isi hatiku
Di malam hening aku selalu mengadu
Tunjukkan padaku

Ku aktifkan radarku mencari sosok yang dinanti
Ku ikhlaskan pengharapanku di hati
Siapa dirimu

Dalam kesabaran ku melangkah menjemputmu
Cinta dalam hati akan aku jaga hingga
Allah persatukan kita

Reff :
Jodoh dunia akhirat, namamu rahasia
Tapi kau ada di masa depanku
Ku sebut dalam doa, ku ikhlaskan rinduku
Kita bersama melangkah ke syurga, abadi….

Ku aktifkan radarku mencari sosok yang dinanti
Ku ikhlaskan pengharapanku di hati
Siapa dirimu

Ku merayu-rayu pada Allah yang tahu isi hatiku
Di malam hening aku selalu mengadu
Tunjukkan padaku


(Back to Reff)

Bukan cinta yang memilihmu
Tapi Allah yang memilihmu
Untuk ku cintai….

(Back to Reff)


[Youtube : Jodoh Dunia Akhirat] 

Tuesday, 26 July 2016

Kutipan Novel "Rindu" - Tere Liye

Wahai laut temaram, apalah arti memiliki? Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.

Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan? Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan. Dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.

Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta? Ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah. Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai laut yang gelap, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.

Novel "Rindu" ~ Tere Liye

Tuesday, 5 July 2016

Cerpen : Antara Ada dan Tiada

Sore hari di taman kota, aku duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon yang rindang bersama dia. Seorang pria yang telah mengisi hatiku sejak delapan tahun silam saat kami masih sama-sama di bangku SMA dan dia masih akan selalu berada di hatiku selamanya. Wajahnya nampak sangat tenang. Senyum tak pernah sirna dari wajahnya. Kami berbincang sambil sesekali tertawa riang.

Beberapa orang lewat di sekitar kami dan melihatku dengan tatapan aneh dan bingung. Sesekali mereka tertawa tertahan. Aku bertanya padanya, apakah ada sesuatu yang aneh padaku sehingga membuat mereka tertawa. Dia hanya tersenyum ramah. Aku semakin bingung, sepertinya benar-benar ada yang aneh pada diriku. Aku langsung mengambil kaca di dalam tas, mungkin ada sesuatu di wajahku atau makeup ku yang terlalu menor. Aku juga mengecek pakaianku, mungkin ada yang bolong. Tapi ternyata tidak ada apa-apa, semua nampak normal.

Aku kembali menatapnya dan bertanya sebal, beri tahu aku jika ada yang aneh padaku dan membuat mereka tertawa. Dia pun hanya tertawa ringan dan berkata bahwa tidak ada yang aneh dan mungkin mereka hanya iri pada kecantikanku. Aku memukulnya pelan sambil tertawa. Dia memang paling bisa menggodaku. Aku percaya padanya dan tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang. Mungkin benar mereka hanya iri melihatku dan dia yang begitu mesra.

Monday, 13 June 2016

Puisi : Tawa Palsu

Banyak tawa, tapi terasa hampa
Nampak riang, tapi selalu kosong
Penuh canda, tapi tiada arti
Tawa itu terdengar palsu
Senyum tak mampu menutup pilu
Sepi, sunyi, sendiri
Selalu diam menyelimuti
Sendiri membunuh waktu
Tanpa kata yang mampu terucap
Tiada cerita pernah terungkap
Tawa hampa
Senyum semu
Canda tawa yang memenuhi hari
Lenyap sudah kala sendiri

Saturday, 4 June 2016

Cerpen Plot Twist : Takdir tak Berpihak

Pukul tujuh pagi. Suasana di Lapas nampak ramai karena akan diselenggarakan apel memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan atau Dirgahayu Pemasyarakatan yang diperingati setiap tanggal 27 April. Apel ini akan dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM dan para pejabat dan pegawai dari beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan lainnya di sekitar kota, seperti Lapas, Rutan, Rupbasan, LPKA, dan Bapas.

Regu piket jaga semalam telah begadang dan tidak tidur untuk mempersiapkan semuanya. Nail, salah satu petugas jaga nampak sangat mengantuk dan lelah. Seharusnya ia bisa pulang selepas piket malam. Tapi pagi ini harus mengikuti apel terlebih dahulu. Nail berjalan keluar menuju kantin. Sepertinya ia membutuhkan secangkir kopi dan sarapan untuk mengembalikan tenaganya. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum gladi dan apel dimulai. Nail berjalan dengan gontai dan sesekali menguap.

Tiba-tiba Nail hampir menabrak seorang pegawai wanita dari UPT lain. Ia segera sedikit bergeser agar pegawai tersebut bisa lewat. Tapi ternyata wanita tersebut bergeser ke arah yang sama. Kejadian ini berulang tiga kali. Mereka pun berpandangan dan tertawa. Akhirnya Nail merapatkan diri ke dinding dan mempersilahkan si wanita lewat. Pegawai wanita itu pun tersenyum dan mengangguk pelan sebelum berjalan melewati Nail.

Sunday, 22 May 2016

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik (5)

Dear Rubik, Sahabatku....
Aku kembali. Maafkan aku pergi terlalu lama. Apakah kau marah padaku? Bukan keinginanku, sungguh. Andai bisa, aku ingin datang setiap hari. Kau tau kan, aku bergantung pada hujan dan matahari. Dan ternyata mereka tak bersahabat dengan kita. Hingga delapan puluh delapan hari berlalu sejak pesanmu yang terakhir, aku baru bisa kembali. Lebih tepatnya seratus delapan puluh delapan hari sejak kedatanganku terakhir kali. Kuharap kau dapat mengerti.

Hemmm.... apa kau benar-benar merindukanku? Warna-warniku? Apa kau serius dengan semua yang telah kau katakan? Maafkan aku yang selama ini tak mengerti karena kau tak pernah terus terang. Kenapa kau baru berani bilang setelah aku menghilang? Atau kau hanya merasa kehilangan teman? Aku tak berani menebak-nebak perasaanmu padaku.

Sebenarnya jujur saja aku juga merindukanmu. Sangat. Tapi.... aku tak tahu rasa ini sekadar teman, sahabat, atau lebih, atau rasa yang lain yang tak kumengerti. Aku juga tak dapat menjelaskannya padamu. Aku takut salah mengartikan semuanya. Bantu aku.

Bagaimana warnamu? Masihkah nampak rumit? Adakah yang lain telah menyelesaikannya?

Monday, 16 May 2016

Puisi : Kelam / Keputusasaan


Di sudut gelap meratap
Meringkuk lemah tiada daya
Hilang sudah tanpa asa
Diam
Kesunyian membunuh raga
Kosong tak bernyawa
Kelam

Jiwa terkurung dalam bui
Jeruji dari kepahitan hati
Sunyi
Tak lagi berbunyi
Tangis kering tak lagi menitik
Meski luka masih mengiris
Perih

Terdiam
Terluka
Sakit
Lalu mati

Sunday, 15 May 2016

Cerpen : Telfon

Who do you think you are, running round leaving scars, collecting your jar of heart... Panggilan dari nomor pribadi. Dering handphone berhenti ketika tombol jawab ditekan.

"Hallo."

Hening. Tidak ada suara di ujung telfon sana.

"Hallo. Siapa?"

Tut tut tut. Panggilan terputus. Entah siapa yang menelfon. Dihubungi kembali pun tidak bisa karena tidak ada nomor yang tampil. Alfa nampak bingung. Jam menunjukkan pukul setengah lima. Ini masih terlalu pagi untuk menelfon seseorang apalagi dengan nomor tak diketahui. Apa mungkin cuma orang iseng yang ingin membangunkannya. Tapi siapa?

Tak lama kemudian handphonenya berdering lagi. Alfa langsung menekan tombol jawab. Tapi dia tidak menyapa duluan. Alfa hanya diam mencoba mendengar seseorang di ujung telfon sana. Tapi orang tersebut juga hanya diam. Dua menit berlalu hanya dalam diam. Sepertinya Alfa sudah mulai kesal.

"Hei. Kalo cuma mau diem, mending dimatiin aja. Kau tau ini jam berapa? Jangan bikin orang kesel pagi-pagi gini. Pake private number pula. Kau ini siapa?"

Friday, 29 April 2016

Cerpen : Dari Balik Jeruji

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas.  Dia duduk di pos jaga. Nampak gagah dengan seragam dinas, biru muda - biru dongker dan sepatu boots. Sesekali menggunakan baret, sesekali menggunakan topi biasa, atau nampak rambutnya yang berpotongan pendek rapi tertata.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Dia mengawas narapidana pria melakukan pembersihan di lapangan. Atau terkadang mengawas narapidana pria melakukan olahraga. Atau sesekali pula dia bermain bola bersama para petugas dan narapidana.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Aku hapal kapan jadwal piketnya dan aku selalu memandangnya dari balik jeruji jendela. Aku selalu menunggu saat-saat aku sedang kegiatan di luar blok dan bertepatan dengan jadwal piket pagi atau siangnya. Aku bisa memandangnya dari lapangan. Lebih dekat. Aku semakin mengenal wajahnya. Lebih jelas.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Dari dalam blok wanita. Sementara dia bertugas di blok pria. Jauh di seberang lapangan. Sudah satu tahun aku di sini memandangnya dari jauh dan masih akan terus begini hingga tiga tahun ke depan. Di sini, Lapas Klas I. Vonis 4 tahun hukuman, Pasal 127(1) UU 35/2009. Kasus yang sangat terpaksa kulakukan dan tiada yang perlu tahu kenapa.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Dan hanya akan selalu seperti ini saja. Takkan ada kisah. Takkan ada cerita. Berakhir begini saja hingga nanti saat aku bebas. Biarlah. Cukup begini saja. Karena aku tetap suka memandangnya, walau hanya dari balik jeruji penjara.

Monday, 25 April 2016

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik (4)

Dear Pelangi,
Hei kau dimana? Aku tak dapat melihatmu di atas sana. Apa kau sudah pergi? Kenapa begitu cepat. Atau aku yang terlambat datang? Aku ingin melihat warna-warnimu. Ayolah kembali lagi. Wahai langit, wahai rintik hujan, wahai mentari bersahabatlah. Bawa lagi Pelangi kesini.

Kau hampir berhasil menyelesaikan warnaku. Aku akan sabar menunggumu. Kuharap kau dapat segera kembali dan berusaha lagi.

-Rumit a.k.a Rubik-


--------------------------------------------------
--------------------------------------------------


Pelangi?
Hei kau kemana? Kenapa tak kunjung datang? Kenapa kau pergi terlalu lama. Aku tak sabar menunggumu. Ini sudah hampir dua minggu berlalu. Sampaikan salamku pada hujan dan matahari, apa mereka membenciku sehingga menghalangiku untuk melihatmu. Kembalilah segera. Aku selalu menunggumu.

-Rubik-


--------------------------------------------------
--------------------------------------------------


Dear Pelangi,

Sunday, 24 April 2016

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik (3)

Hai Rubik, senangnya aku bisa cepat kembali lagi. Bahkan begitu awal. Pagi. Yeay. ^_^ Rasanya banyak yang nampak senang pagi ini. Aku jadi semakin bersemangat.

Hari ini aku pasti bisa menyelesaikan semua warnamu. Aku sudah berhasil di lapisan pertama. Tunggu saja, sebentar lagi juga akan kuselesaikan lapisan kedua dan ketiga. Tak perlu bantuan yang lain. Kau akan memberi hadiah apa jika aku berhasil? Haha.

Ngomong-ngomong, apa kata yang kau coret itu. Aku penasaran. Sepertinya kata "merindukanmu". Haha. Apa kau bercanda? Sepertinya aku saja yang salah membacanya. Menulislah dengan benar. Kau sudah membuatku bingung karena warnamu. Jangan tambah lagi dengan tulisanmu yang juga membingungkan. Haha.

Berharap aku bisa bertahan lama di atas sini. Semoga hujan dan matahari berbaik hati membantu. Andai kau juga bisa membantu. Tapi mengatur warnamu sendiri saja sulit, apalagi mengurus warna-warniku. Haha.

Sahabatmu, Sahabat Si Rumit
-Pelangi-

Hei kau seharusnya merubah namamu menjadi Rumit, bukan Rubik. Haha...

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik (2)

Dear Pelangi,
Lihatlah, aku masih seperti ini, berantakan. Haha. Masa kau belum bisa menyelesaikannya? Rasanya aku tak serumit itu. Kau hanya terlalu malas mencoba. Ayolah, berjuang lagi. Haha. Apa aku harus menjanjikanmu hadiah agar kau lebih semangat? Haha.

Sebenarnya aku mulai bosan berantakan seperti ini. Rasanya ingin mencari bantuan lain. Tapi aku hanya ingin kau yang mengembalikan semua warnaku. Seberapa lamapun waktu yang kau butuhkan, tenang saja, aku akan selalu menunggumu.

Kau selalu nampak indah di atas sana. Warna-warnimu begitu menyenangkan. Andai aku bisa memanggilmu tanpa perlu rintik hujan dan matahari. Aku ingin kau di atas sana sepanjang hari. Semua orang pasti juga akan senang. Haha.

Cepatlah kembali lagi. Aku merindukanmu menunggumu selalu. Hahaha....

Yang kau anggap rumit,
-Rubik-

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik

Hai Rubik, apakah kau masih penuh warna? Apakah kau masih saja rumit? Apakah aku mampu menyelesaikanmu? Kapan warna-warna itu kembali menyatu? Rasanya aku menyesal telah mengacak-acaknya. Aku tak mampu mengembalikan lagi semuanya. Kau masih terlalu rumit. Membingungkan. Aku mulai lelah mencoba.

Oh ya, aku masih melengkung di atas sini. Warna-warniku masih terlihat, meskipun sudah mulai pias. Rintik hujan sudah berhenti. Dan matahari sudah akan pulang menuju Barat. Sebentar lagi mungkin aku juga akan pulang. Aku belum tahu kapan akan datang lagi. Tak usah menunggu. Haha. Memangnya kau menungguku? Kurasa tidak.

Tapi aku akan tetap mencarimu saat aku kembali muncul. Aku masih penasaran ingin menyelesaikan semua warnamu. Andai aku bisa datang sesukaku. Mungkin aku akan lebih cepat berhasil menyelesaikannya karena bisa selalu mencoba. Sayangnya aku bergantung pada hujan dan matahari. Tapi lihat saja nanti, aku pasti bisa menyatukan semua warnamu lagi. Haha.

Sahabatmu,
-Pelangi-

Cerpen Fiksi : Tanda Tanya ?

Siang ini hujan deras mengguyur kota. Beruntunglah tadi aku tiba di toko buku ini saat hujan baru saja rintik. Jadi aku berlarian kecil dari parkiran mobil menuju ke dalam toko. Tanpa basah. Toko buku ini memiliki parkiran terbuka. Jadi sekarang mobilku diluar basah terguyur hujan.

Sudah lebih dari satu jam aku berkeliling di toko buku ini. Buku yang aku cari juga sudah didapat. Tapi aku belum bisa pulang. Diluar hujan masih cukup deras. Aku tak mau basah kuyub gara-gara harus lari menuju parkiran. Jadi aku masih keliling melihat-lihat buku selagi menunggu hujan reda.

Setelah bosan berkeliling, aku pun turun setelah membayar buku yang kupilih. Berharap hujan diluar sudah reda. Jadi aku bisa segera pulang.

Ada banyak orang di lantai pertama berdiri di sekitar pintu utama. Diluar masih hujan deras dan mereka terjebak disini. Sama sepertiku, menunggu hujan reda. Kemudian di antara orang-orang tersebut, pandanganku tertuju pada seseorang. Tampak samping seorang pria bersepatu boots hitam, seragam celana biru dongker dan atasan biru muda, tertutup jaket. Tampak seperti "dia".

Karena penasaran dan ingin memastikan, aku pun mendekatinya.  Ya, itu benar-benar dia. Lalu aku memberanikan diri menyapanya.

"Naf?"

Dia pun menoleh dan menatapku dengan agak kaget. "Eng... eh... Rai."

Sudah cukup lama aku tak bertemu dengannya. Bahkan bisa melihatnya sedekat ini. Sudah cukup lama aku tak berkomunikasi dengannya. Sejak saat itu, dia menjauh tanpa penjelasan dan tak pernah mengirimku pesan lagi.

"Apa kabar?" Suaraku bergetar. Aku tak biasa mengobrol langsung dengannya.

Monday, 18 April 2016

Puisi : Air mata di balik tawa

Begitu banyak air mata tersembunyi
Di balik tawa setiap hari
Senyum ceria yang selalu dibagi
Tak mampu mengobati kala sendiri
Ternyata waktu belum mampu menghapus
Memori yang kian menumpuk
Hanya tangis yang menemani
Menghabiskan waktu meratap perih
Biarlah tiada yang tau
Biarlah hanya tawa yang nampak selalu
Meski mungkin tampak menipu
Karna tak mampu menyembunyikan lagi
Airmata ini
Janganlah air mata ini nampak
Tak perlulah mereka melihat
Biarlah tawa ini menutup sendu
Biarlah nampak riang selalu




Thursday, 3 March 2016

Puisi : LAGI

Ingatkah dengan prinsipmu?
Saat kau memilih menjauh dari lelaki.
Saat kau memilih tuk sendiri.
Ingatkah dengan alasanmu?
Saat kau telah memulai hijrah.
Saat kau mulai lelah dengan cinta yang salah.
Saat kau telah lelah merasakan sakit karena cinta.
Hingga akhirnya kau mampu melewatinya.
Kau sanggup bertahan menjalaninya.
Tapi....sekarang kau kembali jatuh ke dalam lubang yang sama.
Jatuh ke tempat yang salah.
Cinta.
Kau terbuai indahnya.
Kau terhanyut hingga kau lupa.
Lupa prinsip yang kau pegang.
Lupa rasa sakit yang pernah kau rasa.
Dan sekarang lihatlah.
Kau merasakan perihnya (lagi) kan?
Jangan salahkan dia.
Jangan salahkan keadaan.
Tapi salahkan dirimu yang tak mampu tegas.
Kau yang membuka (lagi) pintu yang telah terkunci rapat.
Hingga dia masuk dan pergi mencuri rasa.
Sakit (lagi).
Rasakanlah.
Nikmatilah.
Ingatlah dulu kau mampu bertahan.
Kau berhasil melewati semuanya.
Kini, kau juga pasti bisa.
Berusahalah (lagi).
Hingga kau mampu tersenyum (lagi).

Wednesday, 27 January 2016

Puisi : Sakit

Apa kau pernah merasakan sakit di dalam dadamu?
Begitu menyesakkan.
Bagai tertusuk paku tajam, lalu digores perlahan.
Menusuk begitu dalam.
Sakit, tapi tak berdarah.
Mengalir ke seluruh tubuh dan menegang.
Sakit itu ada, tapi entah dimana lukanya.
Meski mencoba menahan, tapi tetap terasa.
Sakit. Luka.
Apa kau tau sebab serta obatnya?
Kau.

Saturday, 16 January 2016

Puisi : Special Made For You

Still Untitled

Requested by My Commandant


Dalam diam, terus menatap
Dalam hati, slalu berharap
Hingga waktu datang menyapa
Membawa rasa yang tak terduga

Ketika sebelah tangan menepuk
Rasa itu datang menyambut
Hingga hati yang tlah lama terkunci
Kini berhasil terbuka kembali

Rasa yang kini menguasai diri
Membawakan sebuah tanya
Hati yang telah kau miliki
Dapatkah kau menjaga?