22 April 2019

3 Babak Permainan

Permainan puzzle ku dulu telah lama berhenti. Tak ada lagi kepingan puzzle yang kutemukan untuk kususun kembali. Puzzle yang dulu mulai nampak bentuknya kini berantakan lagi. Lalu kusimpan saja kepingan-kepingan puzzle yang pernah tersusun. Entah akan ada kepingan lain yang muncul lagi, atau permainan ini telah berhenti karena takkan ada sisa kepingan lagi.

Lalu

31 March 2019

Untaian Bait Untuk Muslimah Yang Sedang Menanti

Wahai muslimah…
Permata akan tetap menjadi permata,
Walaupun harganya mahal, mendapatkannya harus bersusah payah
Setelah didapat, menjadi barang berharga yang terus dijaga

Coba kita bandingkan
Pecahan kaca tidak akan pernah menarik perhatian, padahal kilauannya sekilas sama
Walaupun ia hampir tak berbayar
Bahkan ketika ia berserakan di depan mata
Kalaupun disimpan, bisa bahaya sehingga perlu waspada

Jika permata dan pecahan kaca adalah perumpamaan manusia,
Engkau pilih jadi yang mana?

Wahai muslimah…

26 March 2019

Dialog Aku kepada aku

"Sakit kan?"
Mengangguk.
"Lalu?"
Menggeleng.
"Yasudah berhenti saja."
Diam.
"Apa yang membuatmu masih bertahan? Apa lagi yang kau harapkan?"
Entahlah.
"Aku gak mau melihatmu terus menyakiti dirimu sendiri. Jadi sudahlah."
Menunduk.
"Semua ini gak akan berhasil."
Aku tahu.
"Lalu?"

02 February 2019

Cerpen : Bubble.Gums, Gank Jaman SMA

Hari Sabtu siang, aku sedang makan di restoran ayam goreng yang terkenal seantero Indonesia, Kaefce. Aku mengambil tempat duduk agak sudut di dalam. Hari ini libur kerja, tapi aku membawa laptopku, laptop kantor lebih tepatnya, bukan untuk kerja. Hanya iseng menyendiri sambil mencari ide tulisan baru untuk mengisi blogku, yang mungkin pembacanya cuma aku doang.

Beruntung siang ini gak terlalu rame karena sudah lewat jam makan siang. Jauh di depan dari tempatku duduk ada mama papa muda sedang menyuapi gadis kecilnya. Lalu di ujung dekat jendela ada pasangan ABG yang ngobrol-ngobrol sambil menikmati es krim dan kentang goreng. Tak lama kemudian masuk rombongan adek-adek cewek SMA berpakaian coklat Pramuka duduk di meja panjang gak jauh dari tempat dudukku, sekitar tujuh atau delapan orang. Aku masih bisa mendengar jelas obrolan dan candaan mereka. Suara mereka memang terdengar cukup keras dan berisik. Sesekali mereka berfoto-foto dan ketawa terbahak-bahak. Terkadang aku jadi ikut menahan tawa mendengar celoteh aneh mereka.

Aku jadi terkenang jamanku SMA.

27 January 2019

Cerpen : Budi dan Ibu Budi (Bumi dan Langit)

Bumi dan Langit



Harap tenang, Budi dan ibunya sedang berada di rumah seorang gadis yang selama ini selalu mengisi hati dan pikirannya. Hari ini Budi memantapkan hatinya untuk melamar si gadis. Ditemani ibunya, karena sang ayah telah tiada. Tak lupa ibu Budi membawa serantang makanan sebagai buah tangan untuk keluarga si gadis. Hanya masakan sederhana jualan ibu di pasar, karena hanya itu yang mereka mampu berikan.

Di hadapan kedua orang tua si gadis, wajah Budi nampak begitu canggung. Tapi ia berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan maksud kedatangannya kemari. Sayangnya, niatnya tak disambut baik. Ayah si gadis menolak lamaran Budi. Budi hanya tertunduk lemah. Ibu Budi menahan air mata. Si gadis hanya terdiam. Entah bagaimana perasaannya pada Budi.

16 January 2019

Cerpen : Rindu

Dek : Mas, aku rindu....
Mas : Tumben. Kamu kenapa Dek? Ada yang mau kamu ceritain?
Dek : You know me so well ya Mas.
Mas : Ada apa, ceritalah. Apa perlu telfon atau video call?
Dek : Gapapa sih Mas. Cuma lagi kangen aja. Pengen whatsappan gini aja ngobrol2.
Mas : Maafin aku ya Dek. Aku ga bisa ada di deket kamu saat kamu butuh.
Dek : Jangan bilang gitu lah. Dimana pun kamu berada, kamu yang selalu siap sedia denger keluh kesahku.

06 January 2019

Cerpen : Kau Membuatku Menulis Lagi

Aku berdiri di depan lemari kaca yang berisi berbagai buku yang berjejer rapi. Ada novel, nonfiksi, biografi, majalah, dan lain-lain. Semuanya sudah selesai kubaca. Bahkan ada beberapa buku yang kubaca berulang. Sebagian adalah karya penulis ternama dan beberapa lainnya adalah karyaku sendiri. Kuamati satu persatu judul, hingga pandanganku berhenti pada sebuah buku bersampul warna putih. Aku menariknya dari lemari. Tertulis dengan warna merah judul buku di bagian atas sebelah kiri, "Kau Membuatku Menulis Lagi". Dan di bawahnya terdapat nama si penulis, Nevada. Itulah aku.

Novel ini adalah karyaku yang baru terbit beberapa bulan lalu. Aku sudah menjadi penulis sejak masih duduk di bangku SMA. Beberapa cerita yang kukirim ke redaksi dimuat di majalah. Kemudian sepuluh tahun lalu aku telah berhasil menerbitkan buku karya pertamaku dan kini sudah ada delapan buku yang pernah beredar di toko-toko buku ternama. Aku menatap lagi buku di tanganku, kusentuh tulisannya yang agak timbul. Buku ini mengingatkanku pada kisah tiga tahun yang lalu. Kala itu aku menghentikan hidupku sebagai penulis.

01 January 2019

Cerpen : Dia.Lo.Gue (2)

Dia.Lo.Gue Versi 2

Hari ini kamu mengajakku bertemu. Aku datang lebih dulu dan menunggumu di sebuah cafe. Ku pikir hanya akan ada kita berdua. Tapi ternyata setelah kamu datang, kamu membawa seorang wanita. Nampaknya kamu juga gak bilang padanya. Terlihat jelas dari wajahnya yang melihatku dengan heran.

Dia : "Siapa dia Yang?"
Lo : "Bukan siapa-siapa Beb. Ini temenku, Vina." (Kamu tersenyum ramah).
Gue : (Aku gak tahu haru bersikap gimana, hanya menatapmu dan dia bergantian).
Lo : "Kenalin Dek, ini Nurul, cewekku yang sering ku ceritain ke kamu." (Kamu mengenalkan dia padaku dengan begitu santainya).
Dia : "Beneran cuma temen? Temen apa?" (Dia seperti menatapku dengan wajah gak senang).
Lo : "Temen cerita aja Beb. Iya kan Dek?" (Kamu bertanya padaku hanya untuk meyakinkannya).
Gue : "Oh iya Mbak. Aku cuma temenan biasa aja dengan Bang Aryo." (Aku mencoba tersenyum padanya. Wajahnya masih nampak gak bersahabat).
Lo : "Aku pengen kalian berdua saling kenal."
Gue : "Maaf. Aku pamit duluan aja Bang, biar gak ganggu kalian." (Aku langsung berlari keluar).
Lo : "Dek...!