Wednesday, 24 December 2014

Kecanduan Fanatik TV

Terlalu fanatik dengan Televisi, TV, Teve, Tivi, atau apalah sebutan lain. Hampir sebagian waktu dihabiskan di depan TV. Dari melek mata bangun tidur sampe mejem tidur lagi. Apalagi kalo hari libur di rumah aja. Apa aja yang dilakuin? Yah cuma nonton TV. Suka gak suka, bagus gak bagus acaranya, tetep aja di depan TV. Apalagi kalo suka banget acaranya, tambah gak bisa berpaling. Bahkan terkadang mau pergi jalan-jalan atau melakukan hal lain pun rasanya berat kalo bertepatan dengan acara yang disukai. Sayang kalo kelewatan acaranya.

Benar-benar sudah menjadi hobi. Bahkan jika ada kolom hobi di formulir biodata dan sejenisnya, pasti diisi hobinya nonton TV. Entah pantaskah dibilang hobi. Rasanya hobi seharusnya mendatangkan manfaat. Sedangkan ini? Entahlah. Beberapa acara memang menambah wawasan. Tapi selebihnya, mungkin hanya sekedar hiburan tak bermakna.

Mungkin seharusnya jadi artis biar sering berhubungan dengan TV. Ah, tidak. Takkan ada waktu lagi untuk menonton TV. Atau lebih baik jadi pengamat TV atau anggota KPI. Memangnya pekerjaan mereka hanya menonton TV aja? Entahlah.

Sudah terlalu kecanduan. Mungkin karena kurang kerjaan? Sebenarnya tidak. Ada banyak kegiatan lain yang lebih penting. Tapi daya tarik TV terlalu mengikat. Tak lagi bisa beranjak. Lelah terkadang. Tapi tetap aja. Mungkin harus cuci otak. Yah, andai aja bisa.

Thursday, 18 December 2014

Berakhir atau Terus Berlanjut

Saat membaca buku atau menonton film yang sangat menarik bagimu, kau pasti akan sangat penasaran menantikan bagaimana kisah selanjutnya dan bagaimana kisahnya akan berakhir. Tapi ketika kita sudah sampai di penghujung kisahnya, kita akan merasa tak ingin berakhir. Lalu harus bagaimana kisah si aktor. Haruskah berakhir atau terus berlanjut. Tapi kalau terus berlanjut begitu, berarti sebuah kisah takkan pernah ada ujungnya. Akankah akan tetap menarik jika terus-menerus begitu. Atau lebih baik biarkan saja berakhir, lalu kau bisa mengulang kisahnya saja dari awal kembali. Tapi akankah juga masih tetap menarik bila berulang-ulang kali. Ah, entahlah. Terkadang memang membingungkan. Buku atau film yang menarik akan sangat menarik bila tak segera habis. Tapi juga akan menjadi membosankan bila kisahnya terlalu dipanjang-panjangkan. Jadi, menurutku lebih baik akhiri saja secukupnya. Secukupnya pasti membingungkan seperti apa. Intinya sih berakhir saja sebagaimana mestinya kisah itu akan berakhir. Kisah yang menarik tentu akan meninggalkan kesan. Nah, kesan itulah yang takkan berakhir di benak kita. Jadi, takkan menjadi membosankan kan. Yah, mungkin.

Tuesday, 16 December 2014

Cerpen : Calon Kekasih untuk Rina

"Nak, bagaimana kabar dia sekarang?"

Makan malam baru saja dimulai. Tapi tanpa tedeng aling-aling ayah bertanya tepat saat Rina akan memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Ibu dan adiknya hanya terdiam memandang keduanya. Rina tentu tahu siapa dia yang dimaksud ayahnya. Ia mengurungkan niat untuk menyuapkan makanan ke mulutnya. Rina terdiam sejenak menatap sang ayah yang masih bisa dengan santainya mengunyah makanannya, seolah tak menyadari pertanyaan tersebut telah merusak suasana makan malam.

"Yah,...." Rina baru akan menjawab pertanyaan ayah, tapi ibu segera memotongnya.

"Makanlah dulu, Nak."

Ibu tahu jika pembicaraan suami dan putrinya ini diteruskan, maka makan malam hari ini akan menjadi debat kusir ayah dan anak. Ibu tidak mau putrinya kehilangan selera makan dan tak mau menyantap makanannya. Ibu melirik ayah sekilas, seolah memberikan isyarat untuk melanjutkan pembicaraan nanti seusai makan malam.

Selanjutnya, hanya denting sendok dan piring beradu sesekali terdengar. Semua anggota keluarga hanya diam menyantap makanan masing-masing. Permasalahan ini memang cukup genting. Rina, gadis yang sudah berusia awal kepala tiga ini tak kunjung dinikahi kekasihnya setelah hampir tujuh tahun mereka bersama. Hal inilah yang membuat ayah mengkhawatirkan putrinya. Apalagi Dika, adik Rina, sudah berencana untuk menikah dengan pacarnya dalam waktu dekat.

Sebenarnya Rina tak mempermasalahkan bila adiknya melangkahinya. Tapi ayah tidak mau keluarganya menjadi bahan gunjingan tetangga. Bukannya ayah tak mau membantu mencarikan jodoh untuk Rina. Beberapa kali ayah mencoba mengenalkan anak teman-temannya, tapi Rina tetap saja menolak. Ia masih saja menunggu kekasihnya di belahan bumi yang jauh di sana, Amsterdam.

Nico, kekasih Rina pergi melanjutkan kuliah S2 nya disana empat tahun lalu dan berjanji akan segera kembali dan menikahi Rina setelah ia lulus. Nico sudah lulus dua tahun lalu, tapi belum juga kembali hingga sekarang. Rina hanya bisa menunggu. Beberapa kali ia sering menanyakannya, tapi Nico tidak memberikan jawaban yang pasti. Ia mendapatkan pekerjaan disana, sehingga menetap disana dan tidak tahu kapan akan kembali. Komunikasi mereka akhir-akhir ini juga semakin jarang. Email yang dikirim Rina jarang mendapat balasan dari Nico. Entah karena ia terlalu sibuk atau apa.

Makan malam telah selesai. Pembicaraan yang tertunda tadi pun dilanjutkan di ruang keluarga. Ayah, ibu, Rina, dan Dika sudah berkumpul dan tampak tegang. Rina memulai pembicaraan.

Wednesday, 10 December 2014

Pacaran Bukanlah Usaha Mencari Jodoh

Untukmu yang sudah memilih jalan ini. Pilihan untuk menjadi seorang jomblo mulia. Untukmu yang telah melindungi diri dan menjauhi zina. Pernahkah seseorang temanmu atau keluarga berkata seperti ini, "Jodoh itu harus dicari, diusahain. Kalo diem aja gak bakal dapet." Pernah denger yang seperti itu? Atau itu muncul dalam benakmu sendiri?

Ya, aku pun pernah mengalami. Seorang teman pernah mengatakan demikian. Dan terkadang ada juga terlintas di pikiranku sendiri. Lalu harus bagaimana? Mengikuti jalan merekakah? Mengikuti jejak mereka mendekati zina dengan cara pacaran? Oh, tentu tidak.

Memang betul, jodoh gak akan didapatkan kalo kita cuma berdiam diri. Tapi, apa lantas cara kita mendapatkannya adalah dengan cara pacaran? Kita tentu ingin mendapatkan yang terbaik. Lalu mengapa menggunakan cara yang tidak baik, bahkan dilarang Allah?

Cara terbaik adalah dengan cara memantaskan diri, memperbaiki diri kita, mendekatkan diri kepada-Nya. Semua itu merupakan usaha. Bukankah yang mengatur jodoh adalah Dia. Jadi memohonlah pada-Nya.

Yang pacaran juga belum tentu sampai ke pelaminan. Yang dapet galau doang, yang dapet sakit doang, bahkan yang kehilangan kehormatan sih.... BUANYAKKK. Tapi kalo kita memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada-Nya, insyaa Allah Dia juga akan mendekatkan yang terbaik untuk kita. Gak perlu tuh galau-galauan, patah hati, dan mewek-mewek segala.

Jadi yang udah pacaran harus gimana? Gak ada kata terlambat untuk mengakhirinya. Atau kalau udah siap, ngomong deh sama wali, minta izin ke KUA biar SAH. Kalau udah halal, ya udah aman.

Jadi, buat para Jomblo Mulia insyaa Allah kita semua istiqomah. Dan buat yang masih pacaran atau para jomblo ngenes yang sering galau-galauan, udah akhiri aja. Allah sudah nyiapin yang terbaik, asal kita juga mau berubah menjadi lebih baik.

#UdahPutusinAja
Istiqomah being #JombloMulia
#JoSH - Jomblo Sampai Halal
No Khalwat Until Akad
Being lonely because of Allah is another kind of a Beauty.

Monday, 8 December 2014

Puisi : Halaman Terakhir

Halaman Terakhir


Kukira semuanya belum berakhir
Tapi ternyata sudah melewati halaman terakhir
Akankah ada serial selanjutnya
Atau inilah akhir kisahnya
Tak pernah terfikirkan
Kemana si aktor utama
Semua menghilang tak berjejak
Tapi beginilah seharusnya
Untuk apa masih membuka buku yang sudah usai dibaca
Akhir ceritanya tak jua kan berubah
Bisakah kukoyak saja halamannya
Agar tak ada akhir dari kisah
Atau harus kutulis lagi kelanjutannya
Biar bisa diatur sesukanya
Lelah kutatap buku ini
Tak lagi berkata
Tak lagi bercerita
Harusnya ku cari buku lain
Yang akan bercerita lagi
Tapi akankah lebih menarik
Atau justru hanya akan membosankan
Tiada yang tahu kisahnya tanpa membuka lembaran halaman
Akhirnya kusudahi saja
Kututup buku dan kusimpan saja dalam lemari.

Sunday, 7 December 2014

Pernikahan

Bismillahirrahmanirrahim.


PERNIKAHAN ADALAH PERISTIWA PERADABAN

Pernikahan itu seperti kematian, ia tak dapat diprediksi namun wajib untuk disiapkan. 
Pernikahan itu seperti kematian, ia tak perlu dibicarakan namun ia pasti akan datang.
Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.
Ini bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad. 
Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif.
"Sakinah" bukan cuma "tenang". Ia berasal dari kata "sakan" yang artinya "diam/tetap/stabil". Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai.
Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komperhensif.
Al-Qur’an menjelaskan: "Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya". Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas. Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. 
Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. Agar setelah "rasa penasaran" itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun terlahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera.
Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai.
Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban.

[Khutbah pernikahan anak Ust. Tate Qomaruddin oleh Ust. Anis Matta]

*****

Masih teringat jelas, beberapa tahun yang lalu. Beberapa hari menjelang pernikahannya, seorang akhwat yang sudah aku anggap sebagai mbak di kampus mengatakan demikian:

Wednesday, 3 December 2014

21 Tahun

21 tahun.
Bukan lagi seorang remaja. Apalagi anak-anak.
Merasa masih bocah ingusan yang tak mengerti apa-apa.
Waktuku yang telah berlalu, masih begitu banyak dosa dan sedikit amal ibadah. Astaghfirullah. :'(
Entah hingga kapan umurku yang tersisa. Masihkah aku akan menyia-nyiakannya. Astaghfirullah. :'(
Ampunilah dosa dan khilaf hamba di masa lampau ya Allah. Jangan jadikan sebagai pemberat hidupku.
Bantu hamba ya Allah. Kuatkan hamba. Engkau-lah Sang Pembolak-balik hati. Istiqomahkan hamba selalu di jalan-Mu. Memperbaiki diri agar sesuai dengan aturan-Mu.
Ijinkan hamba membahagiakan ibu dan ayah, membahagiakan orang-orang yang menyayangiku, memohon maaf pada orang-orang yang pernah tersakiti, menjadi orang yang berguna di agama-Mu ya Allah.
Astaghfirullahal'adzim. Astaghfirullahal'adzim. Astaghfirullahal'adzim.
Allahu la ilaha illahu wa al-hayyul qoyyum wa atubu ilaih.
Aamiin ya Robbal 'alamin.


Monday, 1 December 2014

Cerpen Islami : Niqab

Niqab


Aku berdiri di depan cermin menatap diri. Tanganku bergetar menggenggam selembar kain. Kutatap lagi diri ini lebih dalam. Meyakinkan hati. Sudah siapkah aku? Berkali-kali kupandang kain ini dan diriku di dalam cermin. Bismillahirrahmannirrahim. Dengan menyebut nama Allah, kuikatkan kain ini menutupi wajahku.

Kutatap lagi diriku di dalam cermin. Khimar, jilbab, dan sepasang bola mata. Sejak hari ini aku memutuskan untuk menggunakan niqab.

Kulangkahkan kaki keluar kamar menemui ibu dan bapak. Kucium tangan mereka memohon ridhonya. Setelah perbincangan serius semalam, walaupun sempat melarang, tapi Alhamdulillah akhirnya ibu dan bapak mengizinkanku memakai penutup wajah ini.

Aku tahu keputusanku ini mempunyai begitu banyak dampak. Bahkan cibiran tetangga sudah sering mampir di telinga karena jilbabku yang panjang. Entah apalagi yang akan mereka bincangkan setelah kututup sebagian wajahku ini. Tapi aku tak peduli cibiran mereka karena semua ini kulakukan hanya untuk mentaati perintah Allah swt dan mengikuti sunnah Rasul. Allah pasti akan memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapi pandangan orang lain.

Sejarah Hape-hape yang Kupakai

Beberapa bulan lalu kurang produktif menulis. Lagi banyak tugas dan lagi gak ada hal yang bisa diceritan. Otaknya lagi gak encer dan gak kreatif.

Kali ini iseng-iseng aja, mau cerita tentang sejarah hape aku. Hahaahh....

  1. Pertama punya hape pas kelas 3 SMP semester 2. Setelah sekian lama banget ngebet pengen punya, tapi kata ortu tunggu udah SMA baru dibeliin. Sampe nekat mau beli pake uang tabungan sendiri. Tapi untungnya akhirnya dibeliin juga. Hape pertama aku adalah Nokia 6300.
  2. Pas SMA kelas 2, mulai punya dua nomor. Karena rempong mesti gonta-ganti kartu, jadi minta beliin hape lagi biar punya dua. Waktu itu beli hape yang murah aja, 500ribuan. Hape Nokia 2630. Awalnya dibeliin pake duit ortu dulu dan bilang nanti diganti pake duit tabunganku. Tapi ujung-ujungnya gak kubayar. Hahhaaha... Alasannya karena si Mas juga dibeliin hape baru karena hape lamanya rusak. Jadi biar imbang.
  3. Kemudian pas kelas 3 dapet musibah, hape Nokia 2630 itu dijambret. Jadi hape tinggal satu doang. Tapi hape aku yang pertama udah mulai gak layak pakai. Baterai udah kembung jadi cepet banget lowbatt. Ditambah lagi pernah kerendem air di dalam tas karena botol minum tumpah, jadi makin parahlah rusaknya. Pengen minta beliin hape lagi, tapi gak dikasih. Beli pake duit tabungan, ahh sayang. Tapi untungnya hape Mas yang dulu beli barengan itu nganggur karena dia udah beli yang baru lagi. Jadi aku dapet lungsuran hape LG C3. Lumanyan. Kebetulan memang kepengen hape qwerty, karena lagi musim. Hahahahh...
  4. Sampe kuliah masih pake hape itu. Tapi karena beberapa tombol mulai susah banget dipencet, jadi mulai cari-cari hape tambahan, biar punya dua lagi. Akhirnya beli Nokia Asha 303, warna merah tentunya. Dan ini pertama kalinya beli hape pake uang tabungan sendiri.
  5. Makin lama tombol hape LG makin bikin nyesek. Jempol sering pegel-pegel karena susah mencet tombol-tombolnya yang mulai rusak, jadi cari penggantinya. Kali ini cari hape murah aja, sekedar untuk SMSan. Jadi beli hape Nokia 100, cuma 200ribuan.
  6. Lalu aku dapet rejeki menang lomba edit foto #AntiMiras juara pertama. Dan hadiahnya adalah Samsung Galaxy Y. Androidku yang pertama nih.
  7. Baru 3 bulan pakai android, mulai ngerti android dan mulai ngerasa enak dengan berbagai aplikasinya yang bermacam-macam, tapi sayangnya terhalang memory yang kecil. Jadi cari-cari hape lagi. Nyari harga android yang masih bisa terjangkau oleh duit tabungan. Beralih ke Samsung Galaxy Ace 2. 
  8. Udah ganti tapi ternyata memorynya masih gak memadai. Hampir setahunan pakai Ace 2 itu, aku mulai mikir cari pengganti lagi. Akhirnya beli Samsung Galaxy Mega 5.8. Yang kali ini lumayan nguras tabungan. Agak berat sih, tapi berharap yang kali ini bakalan awet sampe punya anak. Udah cukup gak usah gonta-ganti lagi. Hahahaahh.
Yaps, begitulah pergantian hapeku dari pertama kali punya hape pas SMP, sampe hape yang sekarang aku pake untuk nulis ini. Hahahaah....

Lalu kemana hape-hapeku yang dulu? Hape Nokia 6300 udah dijual ke kawan kampus. Entah apa kabarnya, mungkin udah ngebangkai disana. Hape Nokia 2630 entah dipake si jambret atai dijualnya ke pasar/orang lain. Hape LG C3 nganggur aja. Pernah diberes-beresin entah sekarang diletakkin dimana. Hape Nokia 100, sejak punya Galaxy Y jadi nganggur aja. Padahal baru 3 bulan pakai. Akhirnya dijual ke tetangga depan rumah. Dan Galaxy Ace 2, dilungsurin ke ibu. Sebenernya dibeli sih, jadi buat tambah-tambahan beli Galaxy Mega ini. Dan sekarang Nokia Asha 303 dan Galaxy Mega 5.8 ini yang masih dipakai.

Lirik Lagu Pergilah Cinta - Elkasih

Pergilah Cinta - Elkasih


Saat kau bertanya padaku
Cintakah diriku padamu
Yang selalu menemaniku
Selama ini

(*)
Dan ku sadari
Bahwa ku pun tak pernah bisa
Untuk memberi semua
Yang kau minta

Reff:
Oh.... pergilah cinta
Kejarlah semua mimpimu
Doaku kan selalu bersama
Setiap tetes air mataku

Dan ku mohon kepadamu
Lupakan semua tentang aku
Ku tak ingin memberatkan langkahmu
Ku ingin kau bahagia slamanya

Bukan ku tak cinta
Tetapi ku belum tahu
Kemana langkah kakiku menbawaku
Sungguh ku tak tahu

(*) (Reff)

Lirik Lagu Segala Bayangmu - Ornito Band

Segala Bayangmu - Ornito


Senja di sore itu
Menemani kepergianmu
Saat kau ucap kata
Kau tak lagi bersamaku

Perih yang kurasa
Mungkin takkan pernah kau duga
Cinta yang dulu ada
Kini telah kau bawa

Cinta jangan tinggalkan aku
Karena takkan pernah ada
Cinta selain dirimu
Jika kau tinggalkan aku
Sanggupkah diriku menghapus
Segala bayangmu oh kekasihku
Kembalilah


>> DOWNLOAD LAGU <<