Saturday, 21 June 2014

Ah. Sudahlah.

AH


Di pencarian facebook, aku bermaksud mencari facebook Asma Nadia. Saat mulai kuketikkan asm, muncullah akun fanspage facebook Asma Nadia dan beberapa akun facebook lain dengan nama yang sama seperti kata kunci yang kuketikkan di pencarian tadi. Salah satunya akun facebook.... Ah. Sudahlah.

Aku jadi teringat seseorang. Bukan siapa-siapa. Sungguh. Memang aku bukan siapa-siapanya dan dia bukan siapa-siapaku. Tak ada kisah, tak ada cerita antara aku dan orang itu. Hanya saja.... Ah. Sudahlah.

Kekaguman ini masih saja membekas. Saat dia sedang sholat Dhuha. Video ceramah ustadz yang dia tampilkan. Latar desktopnya dengan gambar Islami. Isi facebooknya, twitternya, blognya. Semuanya.... Ah. Sudahlah.

Hanya karena nama itu, aku jadi selalu mengingatnya. Ah. Sudahlah. Lupakanlah. Memang harus disudahi ingatanku ini. Karena memang tak ada yang bisa diingat. Jadi.... Ah. Sudahlah.

Wednesday, 18 June 2014

Cerpen : Istikharah Cinta

Cerpen | Cerita Pendek | Cerpen Islami |

Istikharah Cinta


Siang hari ba'da Zuhur, Syifa selesai mengikuti seminar tentang Khilafah oleh ustadz ternama dari ibukota di Masjid Al Ghozali di dekat kampusnya. Usai sholat Zuhur berjama'ah Syifa pun bersiap pulang. Kemudian di depan masjid seorang pria menyapanya.

"Assalammu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Jawabnya dengan wajah bingung.
"Afwan, apakah ukhti putrinya almarhum ustadz Zainal?" Tanya pria itu.
"Iya. Akhi siapa ya?"
"Alhamdulillah bener. Syifa kan? Aku Arif teman SD-mu dulu. Tetanggamu dulu juga."

Syifa berpikir sejenak, mengingat-ingat ikhwan di depannya ini. Hingga akhirnya diapun mengenali Arif, tetangganya dahulu sebelum ia pindah. Saat Syifa baru masuk SMP, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Semenjak itu akhirnya ia tinggal dengan paman dan bibinya di Pekanbaru.

"Wah Arif, apa kabar? Udah lama gak ketemu. Gak nyangka ketemu disini."
"Alhamdulillah baik. Kamu sekarang udah pindah ke Palembang lagi?"
"Iya, udah dari 3 tahun lalu ngekost karena aku kuliah di Unsri, FKIP."
"Ya ampun. Padahal satu universitas, tapi baru sekarang kita ketemu. Oh ya,  maaf gak bisa lama-lama. Aku ada rapat LDK. Fasilkom mau ngadain seminar Ilmu dan Agama. Kalo kamu ada waktu nanti boleh ikut. Waktunya nanti aku kabarin lagi. Assalammu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."

Merekapun berpisah setelah sebelumnya saling bertukar kontak.

Meski satu universitas, Syifa dan Arif jarang sekali bertemu. Hanya beberapa kali saat keduanya sedang mengikuti kajian atau seminar yang sama. Itupun tak banyak interaksi antara mereka. Hanya sapa seperlunya saja. Sebagai aktivis kampus, mereka paham aturan berinteraksi dengan lawan jenis dalam Islam.

Namun, dari pertemuan-pertemuan singkat itu, timbul pula suatu perasaan dalam hati Syifa.

Saturday, 14 June 2014

Bukan Kampanye Hitam

Sekedar ikut berpartisipasi mengeluarkan pendapat mengenai pilpres. #bukankampanyehitam.

Jadi walikota Solo menggandeng wakil seorang non Muslim. Lalu ditinggal ke Jakarta dan menjadikan Solo dipimpin oleh pemimpin non Muslim. Di Jakarta juga menggandeng wakil non Muslim, sekarang mau ditinggal juga dan mau menjadikan ibukota juga dipimpin oleh non Muslim.

Memang direncanakankah?

Taukah dalil Al-Qur'an yang melarang memilih pemimpin yang bukan Muslim?

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN/PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)."
(Q.S. Ali-Imran : 28)

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)?"
(Q.S. An-Nisa : 144)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi walimu (pemimpinmu); sesungguhnya sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi wali (pemimpin), maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”
(Q.S. Al-Ma'idah : 51)

Jadi, kalau yg Muslim milih si kotak-kotak jadi presiden, berarti turut andil menjadikan wakilnya yg non Muslim itu menjadi pemimpin ibukota. Berdasarkan dalil di atas, tau sendirilah hukumnya gimana.

Wassalam. :) 

#bukankampanyehitam