19 May 2026

19 Mei 2020

19 Mei 2020 – 19 Mei 2026


19 Mei 2020, hari yang mengubah keseluruhan hidupku. Ketika usaha untuk sembuh tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan. Ternyata malah menjadi hari terakhir kalinya aku dapat melangkahkan kaki dan menjadi terakhir kalinya aku dapat merasakan kaki dan tubuhku. Hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku terjatuh di titik terendah dalam hidup.

Pernah kepikiran untuk mati saja? YA.
Tapi bahkan aku tidak tahu harus bagaimana caranya, karena aku TIDAK BISA APA-APA.
Dan aku juga sadar bahwa dosaku sudah cukup banyak. Siksa dunia-Nya pun sudah terasa segitu beratnya, apalagi dengan siksa akhirat-Nya kelak.

Seandainya....
Ahh....
Ada begitu banyak seandainya yang terlintas memenuhi pikiran. Tapi harus langsung sadar dan ingat ada sebuah hadits.
Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, "Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu". Tetapi katakanlah, "Qadarullah wa ma sya-a fa'ala (Allah telah mentakdirkan segalanya dan apa yang dikehendaki-Nya, pasti dilakukan-Nya)". Karena ucapan 'seandainya' akan membuka pintu perbuatan syaitan. (HR. Muslim)

Berusaha menjalani kondisi ini masih dengan harapan bahwa ini hanya untuk sementara. Bahwa aku akan kembali sembuh seperti semula. Segala cara dan usaha telah dicoba, meskipun hasilnya tetap NIHIL.

Berganti tahun, 2021. Ketika kondisi semakin jelas bahwa ini akan menjadi permanen, seseorang yang semula masih berusaha mendukung, mulai enggan untuk bertahan. Membuat kondisi mentalku menjadi semakin tertekan dan terasa lebih menyakitkan daripada rasa sakit itu sendiri. Aku tahu tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.

Tahun 2022, ketika aku berusaha memulai kembali hidupku yang baru, ternyata terasa jauh lebih menenangkan, melegakan. Masih ada lebih banyak dukungan dari keluarga dan teman-teman yang selalu aku terima. Tanpa kata-kata yang menyakitkan.

Apakah kondisi mulai membaik? YA, meski hanya sedikit dan mungkin tidak nampak berubah.
Tapi apakah aku merasa lebih BAHAGIA? YA.

Menjalani rutinitas harian yang sama hingga tahun-tahun berlalu, meski kadang terasa membosankan. Tapi aku juga memulai hal-hal baru (yah seperti biasa, kalau lagi mood). Mencoba kembali crochet yang mulai kupelajari di tahun 2021, mencoba lagi digital drawing yang dulu kubuat dengan klik-klik mouse di laptop, tapi sekarang hanya mengandalkan Hp dan jari, nonton badminton, nonton voli, nonton berbagai K-drama dan variety show Korea, dan mulai fangirling Super Junior di usia hampir 30 kwkwk. It's FUN.

Kembali serius ke usaha untuk memperbaiki kondisi sekarang, bahkan aku juga mulai kembali usaha fisioterapi. Aku juga berusaha untuk workout setiap pagi, meski terkadang masih sering ada rasa malasnya. Searching tentang wheelchair workout dan follow di sosmed beberapa wheelchair fitness influencer untuk referensi gerakan yang bisa kulakukan.

Dan sekarang, 19 Mei 2026, enam tahun telah berlalu. Aku tetap terus berusaha dengan segala keterbatasan kondisi yang ada. Meskipun terkadang rasa takut dan khawatir akan masa depan, masih selalu menghantui pikiran. Aku yang sekarang sangat bergantung dengan Ibuk, saat Ibuk sudah tiada, aku harus gimana.... Apakah selanjutnya aku akan selalu menjadi beban Masbro dan Mba Ipar? Kalaupun cari pengasuh, cukupkah aku untuk membayarnya? Bahkan sempat kepikiran haruskah aku ke panti jompo atau panti sosial dan sejenisnya? Aku tidak sanggup membayangkan semuanya.

Melihat di sosmed beberapa orang dengan kondisi yang serupa, tetap bisa hidup seperti orang normal, jalan-jalan, kerja, bahkan bisa tetap hidup bahagia bersama pasangannya. Terkadang ada juga rasa iri. Kapan ya aku bisa seperti itu juga....

Selama ini aku hanya berdoa yang berfokus meminta sembuh dan kesehatan, baik untuk aku dan keluargaku, terkhusus Ibuk. Berdoa bisa sembuh, sehat, bisa aktivitas mandiri tanpa perlu bantuan orang lain, dicukupkan rezeki untuk memenuhi keperluanku dengan kondisi ini, dan sebagainya. Semua hal yang aku butuhkan terkait dengan kondisiku saat ini agar tidak jadi beban keluarga lagi.

Tapi akhir-akhir ini aku mulai kepikiran kalau selama ini aku melupakan satu hal. Selama ini tidak pernah kepikiran, karena dengan kondisiku yang seperti sekarang, aku merasa tidak seharusnya kepikiran tentang itu dan merasa tidak pantas untuk memohon itu. Padahal ternyata aku juga membutuhkannya, tapi aku malah tidak pernah memintanya. Seseorang yang bisa menerima kondisiku, membantuku, menjagaku, membimbing, dan mendampingi aku hingga masa tua kelak.

Sekarang malah kepikiran apakah selama ini seolah aku mengecilkan kuasa Allah. Allah tempat meminta. Bahkan yang dirasa takkan mungkin bagi kita, tapi dengan kun fayakun, Allah bisa membuat segalanya terjadi. Bahkan sembuh yang dokter pun sudah berkata tidak mungkin, tapi aku tetap mendoakannya ke Allah. Tapi kenapa hal yang sering aku khawatirkan malah aku tidak pernah mendoakannya, seorang yang bisa menjaga dan menemani aku. Aku terlalu takut dan merasa tidak pantas untuk menjadi beban bagi orang lain lagi yang akan menjadi pasangan.

Sekarang aku akan terus menjalani semuanya dengan ikhlas dan tawakal. Apapun takdir yang telah Allah tuliskan. Sendiri, atau bersama keluarga, atau bakan suatu saat masih ada jalan untuk memiliki pasangan, Engkau Yang Maha Tahu.

Ya Allah, aku bertawakal dan berpasrah kepada-Mu.
Aku serahkan semua takdirku kepada-Mu, Sang Pemilik aku dan hidupku.
Aku tetap yakin Engkau tidak akan meninggalkan hamba-Mu sendirian.
Aku tetap yakin Engkau takkan menguji di luar kemampuan hamba-Mu.
Maka kuatkan aku, Ya Allah....

No comments:

Post a Comment