Tuesday, 5 July 2016

Cerpen : Antara Ada dan Tiada

Sore hari di taman kota, aku duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon yang rindang bersama dia. Seorang pria yang telah mengisi hatiku sejak delapan tahun silam saat kami masih sama-sama di bangku SMA dan dia masih akan selalu berada di hatiku selamanya. Wajahnya nampak sangat tenang. Senyum tak pernah sirna dari wajahnya. Kami berbincang sambil sesekali tertawa riang.

Beberapa orang lewat di sekitar kami dan melihatku dengan tatapan aneh dan bingung. Sesekali mereka tertawa tertahan. Aku bertanya padanya, apakah ada sesuatu yang aneh padaku sehingga membuat mereka tertawa. Dia hanya tersenyum ramah. Aku semakin bingung, sepertinya benar-benar ada yang aneh pada diriku. Aku langsung mengambil kaca di dalam tas, mungkin ada sesuatu di wajahku atau makeup ku yang terlalu menor. Aku juga mengecek pakaianku, mungkin ada yang bolong. Tapi ternyata tidak ada apa-apa, semua nampak normal.

Aku kembali menatapnya dan bertanya sebal, beri tahu aku jika ada yang aneh padaku dan membuat mereka tertawa. Dia pun hanya tertawa ringan dan berkata bahwa tidak ada yang aneh dan mungkin mereka hanya iri pada kecantikanku. Aku memukulnya pelan sambil tertawa. Dia memang paling bisa menggodaku. Aku percaya padanya dan tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang. Mungkin benar mereka hanya iri melihatku dan dia yang begitu mesra.

Lalu langit nampak mendung dan rintik hujan mulai turun. Dia langsung membuka jaketnya untuk menutupi kepalaku. Kami berlari masuk ke dalam mobil sambil tertawa. Untungnya saat tiba di mobil, kami belum terlalu basah. Dia mengajak untuk mengantarku pulang, tapi aku menggeleng pelan. Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua dengannya. Dia tersenyum hangat dan memelukku erat. Begitu nyaman.

Hujan semakin deras di luar sana. lagu favorit kami mengalun pelan membaur bersama suara hujan. Menambah indah suasana. Aku menggenggam jemarinya erat, tak ingin melepaskan diri dari pelukannya. Hingga kenyamanan ini membuatku tertidur lelap.

Aku tak sadar sudah berapa lama aku tertidur hingga terdengar suara seseorang mengetuk kaca  mobil dan membangunkanku. Aku terbangun dan bingung dia tidak ada di sisiku. Aku hanya menggenggam erat jaketnya. Seseorang di luar masih mengetuk-ngetuk kaca dan memanggil. Ternyata seorang ibu petugas kebersihan yang menyapu jalan di sekitar taman, aku sempat berpapasan saat tadi berlari menuju mobil ketika mau turun hujan. Aku pun keluar dari mobil. Hujan sudah reda dan langit sudah mulai gelap.

Ibu tersebut heran melihatku tidur di dalam mobil sendirian malam-malam begini makanya membangunkanku  dan mengingatkanku untuk segera pulang. Aku nampak bingung dan melihat ke kanan kiri mencari dia. Ibu itu bertanya padaku sedang mencari siapa. Aku pun bertanya padanya apakah ibu melihat seorang pria yang bersamaku tadi saat berlari masuk ke dalam mobil.

Ibu tersebut nampak bingung dan heran dan berkata bahwa aku tadi berlari sendirian dan bukan bersama seorang pria. Aku bertanya sekali lagi sambil menyebutkan ciri-ciri dia dan menunjukkan jaket yang kupegang. Ibu itu hanya menggeleng dan tetap berkata bahwa ibu itu dari tadi juga melihatku sendirian duduk di bangku, bicara sendiri, dan berlari sendiri masuk ke dalam mobil.

Pandanganku mulai kosong. Wajah ibu itu mulai nampak khawatir melihatku dan bertanya apa aku baik-baik saja. Ibu itu bahkan meminta maaf karena mungkin dia salah bicara sehingga membuatku berubah sedih. Aku hanya menggeleng pelan dan berkata tidak apa-apa. Aku mulai tersadar dan kembali pada dunia nyata.

Aku mengucapkan terima kasih pada ibu itu dengan senyum hampa. Aku pun segera menuju mobil. Ibu itu makin nampak khawatir dan bertanya sekali lagi apa aku baik-baik saja. Serta mengingatkanku sebaiknya tidak menyetir sendiri jika sedang tidak sehat. Lebih baik menelfon keluarga untuk menjemput. Aku hanya menggeleng dan tersenyum samar sambil mengucapkan terima kasih.

Aku juga memberikan sedikit uang kepada ibu itu dan ia hendak menolaknya. Tapi aku tetap meminta ibu itu untuk menerimanya. Ibu tersebut mengucapkan terima kasih tetap dengan wajah khawatir. Mengingatkanku pada ibu di rumah. Ibu pasti sekarang juga sedang khawatir di rumah. Aku pun segera pulang.

Di dalam mobil perjalanan pulang, tangisku mulai pecah. Aku kembali menyadari semuanya. Ternyata aku masih belum bisa menerima kenyataan. Aku masih belum bisa merelakan dia. Bahwa dia sudah tiada. Bahwa dia  tak lagi dapat menemaniku. Bahwa dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Tiga bulan masih belum bisa menghapus kenanganku bertahun-tahun bersamanya. Semua kenangan tentangnya di dalam pikiranku masih sangat jelas sehingga membuat ilusi yang nampak nyata.

Terang saja orang menatapku aneh, menertawakanku. Aku memang seperti orang gila, bicara sendiri, tertawa sendiri. Tangisku semakin menjadi mengingat semuanya. Air mataku semakin mengalir tak dapat tertahan. Mengaburkan pandanganku hingga jalan persimpangan di depan tak kulihat. Mobilku terus saja melaju tak menyadari mobil lain dari jalan persimpangan tersebut. Kejadiannya begitu cepat, terjadi tabrakan. Tubuhku penuh luka, tapi perih itu tak sebanding dengan perih luka di dalam dada. Napasku semakin tersengal. Mungkin inilah waktuku menyusulnya ke alam sana.

[TAMAT]