Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

27 February 2022

layangan Budi untuk Ani #30haribercerita #30hbc22mengarang

Layangan Budi untuk Ani



Layangannya tersangkut di awan, Budi lari ke puncak gunung untuk melihat layangannya lebih dekat. Gulungan benang di kayu sudah dia tancapkan ke tanah sebelumnya. Dia mengambil teropong untuk melihat layangannya dengan lebih jelas. Meski samar tertutup awan, masih bisa terlihat wajah Ani terlukis disana. Seorang wanita yang selalu mengisi hatinya.

Budi sedang mendaki gunung bersama teman mapala di kampusnya. Dia sengaja membawa layangan yang terlukis wajah Ani karena mengirim foto tulisan di kertas sudah terlalu mainstream. Budi mengambil beberapa foto dan video estetik layangannya. Wajah Ani nampak sangat cantik terbang di langit berselimut awan.

22 April 2019

3 Babak Permainan

Permainan puzzle ku dulu telah lama berhenti. Tak ada lagi kepingan puzzle yang kutemukan untuk kususun kembali. Puzzle yang dulu mulai nampak bentuknya kini berantakan lagi. Lalu kusimpan saja kepingan-kepingan puzzle yang pernah tersusun. Entah akan ada kepingan lain yang muncul lagi, atau permainan ini telah berhenti karena takkan ada sisa kepingan lagi.

Lalu

26 March 2019

Dialog Aku kepada aku

"Sakit kan?"
Mengangguk.
"Lalu?"
Menggeleng.
"Yasudah berhenti saja."
Diam.
"Apa yang membuatmu masih bertahan? Apa lagi yang kau harapkan?"
Entahlah.
"Aku gak mau melihatmu terus menyakiti dirimu sendiri. Jadi sudahlah."
Menunduk.
"Semua ini gak akan berhasil."
Aku tahu.
"Lalu?"

02 February 2019

Cerpen : Bubble.Gums, Gank Jaman SMA

Hari Sabtu siang, aku sedang makan di restoran ayam goreng yang terkenal seantero Indonesia, Kaefce. Aku mengambil tempat duduk agak sudut di dalam. Hari ini libur kerja, tapi aku membawa laptopku, laptop kantor lebih tepatnya, bukan untuk kerja. Hanya iseng menyendiri sambil mencari ide tulisan baru untuk mengisi blogku, yang mungkin pembacanya cuma aku doang.

Beruntung siang ini gak terlalu rame karena sudah lewat jam makan siang. Jauh di depan dari tempatku duduk ada mama papa muda sedang menyuapi gadis kecilnya. Lalu di ujung dekat jendela ada pasangan ABG yang ngobrol-ngobrol sambil menikmati es krim dan kentang goreng. Tak lama kemudian masuk rombongan adek-adek cewek SMA berpakaian coklat Pramuka duduk di meja panjang gak jauh dari tempat dudukku, sekitar tujuh atau delapan orang. Aku masih bisa mendengar jelas obrolan dan candaan mereka. Suara mereka memang terdengar cukup keras dan berisik. Sesekali mereka berfoto-foto dan ketawa terbahak-bahak. Terkadang aku jadi ikut menahan tawa mendengar celoteh aneh mereka.

Aku jadi terkenang jamanku SMA.

27 January 2019

Cerpen : Budi dan Ibu Budi (Bumi dan Langit)

Bumi dan Langit



Harap tenang, Budi dan ibunya sedang berada di rumah seorang gadis yang selama ini selalu mengisi hati dan pikirannya. Hari ini Budi memantapkan hatinya untuk melamar si gadis. Ditemani ibunya, karena sang ayah telah tiada. Tak lupa ibu Budi membawa serantang makanan sebagai buah tangan untuk keluarga si gadis. Hanya masakan sederhana jualan ibu di pasar, karena hanya itu yang mereka mampu berikan.

Di hadapan kedua orang tua si gadis, wajah Budi nampak begitu canggung. Tapi ia berusaha memberanikan diri untuk mengungkapkan maksud kedatangannya kemari. Sayangnya, niatnya tak disambut baik. Ayah si gadis menolak lamaran Budi. Budi hanya tertunduk lemah. Ibu Budi menahan air mata. Si gadis hanya terdiam. Entah bagaimana perasaannya pada Budi.

16 January 2019

Cerpen : Rindu

Dek : Mas, aku rindu....
Mas : Tumben. Kamu kenapa Dek? Ada yang mau kamu ceritain?
Dek : You know me so well ya Mas.
Mas : Ada apa, ceritalah. Apa perlu telfon atau video call?
Dek : Gapapa sih Mas. Cuma lagi kangen aja. Pengen whatsappan gini aja ngobrol2.
Mas : Maafin aku ya Dek. Aku ga bisa ada di deket kamu saat kamu butuh.
Dek : Jangan bilang gitu lah. Dimana pun kamu berada, kamu yang selalu siap sedia denger keluh kesahku.

06 January 2019

Cerpen : Kau Membuatku Menulis Lagi

Aku berdiri di depan lemari kaca yang berisi berbagai buku yang berjejer rapi. Ada novel, nonfiksi, biografi, majalah, dan lain-lain. Semuanya sudah selesai kubaca. Bahkan ada beberapa buku yang kubaca berulang. Sebagian adalah karya penulis ternama dan beberapa lainnya adalah karyaku sendiri. Kuamati satu persatu judul, hingga pandanganku berhenti pada sebuah buku bersampul warna putih. Aku menariknya dari lemari. Tertulis dengan warna merah judul buku di bagian atas sebelah kiri, "Kau Membuatku Menulis Lagi". Dan di bawahnya terdapat nama si penulis, Nevada. Itulah aku.

Novel ini adalah karyaku yang baru terbit beberapa bulan lalu. Aku sudah menjadi penulis sejak masih duduk di bangku SMA. Beberapa cerita yang kukirim ke redaksi dimuat di majalah. Kemudian sepuluh tahun lalu aku telah berhasil menerbitkan buku karya pertamaku dan kini sudah ada delapan buku yang pernah beredar di toko-toko buku ternama. Aku menatap lagi buku di tanganku, kusentuh tulisannya yang agak timbul. Buku ini mengingatkanku pada kisah tiga tahun yang lalu. Kala itu aku menghentikan hidupku sebagai penulis.

01 January 2019

Cerpen : Dia.Lo.Gue (2)

Dia.Lo.Gue Versi 2

Hari ini kamu mengajakku bertemu. Aku datang lebih dulu dan menunggumu di sebuah cafe. Ku pikir hanya akan ada kita berdua. Tapi ternyata setelah kamu datang, kamu membawa seorang wanita. Nampaknya kamu juga gak bilang padanya. Terlihat jelas dari wajahnya yang melihatku dengan heran.

Dia : "Siapa dia Yang?"
Lo : "Bukan siapa-siapa Beb. Ini temenku, Vina." (Kamu tersenyum ramah).
Gue : (Aku gak tahu haru bersikap gimana, hanya menatapmu dan dia bergantian).
Lo : "Kenalin Dek, ini Nurul, cewekku yang sering ku ceritain ke kamu." (Kamu mengenalkan dia padaku dengan begitu santainya).
Dia : "Beneran cuma temen? Temen apa?" (Dia seperti menatapku dengan wajah gak senang).
Lo : "Temen cerita aja Beb. Iya kan Dek?" (Kamu bertanya padaku hanya untuk meyakinkannya).
Gue : "Oh iya Mbak. Aku cuma temenan biasa aja dengan Bang Aryo." (Aku mencoba tersenyum padanya. Wajahnya masih nampak gak bersahabat).
Lo : "Aku pengen kalian berdua saling kenal."
Gue : "Maaf. Aku pamit duluan aja Bang, biar gak ganggu kalian." (Aku langsung berlari keluar).
Lo : "Dek...!

23 July 2018

Kepingan Puzzle

Dia membuatku seperti bermain puzzle. Entah kenapa aku mengumpulkan setiap kepingan puzzle yang dia buat. Mencoba merangkainya perlahan sambil menduga-duga ini tentang apa dan siapa. Sekaligus sedikit mengharap mungkin ini tentangku? Beberapa kepingan yang kususun terkadang membuatku ragu. Tapi kemudian setelah kutemukan kepingan-kepingan baru, keyakinan itu kembali muncul.

Dan kini kepingan-kepingan puzzle itu mulai terlihat bentuknya. Dan dia melengkapi salah satunya. Selama ini aku mencoba menyusunnya sendiri. Baru saja aku putus asa dan ingin berhenti. Kutemukan kepingan puzzle yang membuatku berpikir puzzle ini bukan tentangku lagi. Tidak.

02 July 2018

Cerpen : Kata yang Tak Terucap (2)

Pagi ini di sekolah, Rubik sudah menyambutku di depan gerbang. Entah sudah berapa lama dia menungguku di sini. Dia langsung menagih bukunya ketika aku datang.

"Selamat pagi." Sapanya dengan senyum yang merekah. "Eh, matamu sembab. Kenapa?" Dia bertanya dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa." Jelasku dengan senyuman agar ia tak mencemaskanku.

Rubik segera membuka buku dan membaca tulisanku.

"Apa kamu menangis karena mengingat kejadian yang dulu saat menulis ini? Maafkan aku sudah menanyakannya sehingga membuatmu sedih." Ia menulisnya di buku.
"Tidak apa-apa. Aku tidak sedih karena hilangnya suaraku. Masih beruntung bukan nyawaku. Karena sedikit terkenang masa lalu, jadi aku terbawa suasana saja. Jadi berpikir bagaimana kalau aku benar-benar pergi." Aku membalas di bawah tulisannya.

Rubik balas menulis, "Bersyukur Yang Maha Kuasa masih memberikanmu waktu menikmati kebersamaan bersama keluargamu dan orang-orang yang menyayangimu."
"Iya. Hanya saja, setelah kupikir-pikir semalam, aku jadi membenci pelangi."
"Kenapa?"

01 July 2018

Cerpen : Kata yang Tak Terucap

Perpustakaan adalah tempat favoritku di sekolah. Buku-buku adalah teman terbaikku. Banyak hal yang bisa diceritakannya padaku. Saat jam istirahat kebanyakan teman-teman buru-buru berlari ke kantin, tapi aku lebih memilih menghabiskan waktu di perpustakaan. Bapak petugas penjaga perpus pun sudah sangat ingat denganku karena terlalu seringnya aku kesini. Meja di sebelah kiri dekat jendela adalah tempat favoritku di perpus karena menghadap taman sekolah.

Siang ini perpus lebih ramai dari biasanya. Ada sekelompok siswa-siswi sepertinya sedang mengerjakan tugas kelompok. Untungnya meja favoritku tetap kosong. Hari ini Bu Yanti memberikan PR Matematika, pelajaran favoritku, yang lumayan banyak. Jadi sebelum pulang ke rumah, aku menyelesaikan PR dulu disini biar di rumah bisa belajar yang lain. Aku mengambil dua buku Matematika yang berbeda untuk membantu kalau ada soal yang susah yang tidak ada rumusnya di buku sekolahku.

Tak beberapa lama ada seorang cowok berkacamata membawa sebuah buku duduk di meja yang sama di ujung sisi yang berseberangan denganku. Kulirik sekilas,

17 June 2018

Janji Manis atau Janji Konyol ?

Terinspirasi dari kisah di instagram stories @sundarihana yang lebih dikenal sebagai bulek Hana, buleknya si Kirana @retnohening, tentang Janji Manis dari seseorang di masa lalunya jaman SMA. Kejadiannya delapan tahun silam, tahun 2010, Hana sedang makan dengan seorang teman cowok. Lalu si cowok nanya, "Tahun 2018 Pak Sukis (Ayah Hana) masih tinggal di Duri, Han?" "Iya, kenapa?", jawab Hana. "Tahun 2018 mau kesana ngelamar anaknya." Ternyata si cowok janji akan datang melamar ke rumah menemui orang tuanya pada tahun 2018. Terdengar manis kan, apalagi bagi cewek-cewek yang masih berseragam putih abu-abu. Tentulah kalimat itu menumbuhkan benih-benih virus merah jambu. Walau nyatanya tahun 2018, mereka tak bersatu. Mereka menikah dengan pasangan masing-masing yang berbeda.

Skip. Ini bukan kisah tentang mereka. Kali ini tentang Dinda dan Rian. Dengan janji manis yang serupa tapi tak sama.

13 June 2018

Cerpen : Berakhir di sini

Berakhir Di Sini


Aku duduk sendirian di keramaian ruang tunggu bandara. Penerbanganku masih tiga puluh menit lagi. Berkali-kali aku membuka smartphone, mencari nama seseorang di Whatsapp, mengetikkan beberapa kalimat. Tapi kemudian kuhapus dan kututup lagi smartphoneku. Haruskah aku mengabarinya atau menunggu setelah sampai disana atau tidak sama sekali?

Aku akan berangkat liburan ke tempat pamanku di desa, dulu rumah kakek dan nenek juga. Tapi karena mereka sudah tiada, pamanku yang tinggal disana sekarang. Aku minta ijin bunda untuk liburan sendirian. Untungnya bunda mengijinkan karena tujuanku bukan tempat asing, hanya ke desa kelahirannya dan hanya tiga hari disana. Aku butuh udara segar desa menjauh dari kebisingan kota dan rehat sejenak dari penatnya pekerjaan. Benarkah ini tujuan sebenarnya? Atau aku justru mau menemui seseorang? Yang membuatku berulang kali membuka smartphoneku saat ini.

19 August 2016

Cerpen: Dia.Lo.Gue (Dialogue)

Di suatu tempat, pada suatu waktu aku melihat kamu dan dia. Kamu yang tiba-tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan. Dan kini kamu bersamanya. Siapa dia?

Gue : "Jadi karena dia?" (Aku menatap kamu dan dia bergantian. Wanita dengan dandanan seksi dan kaya. Wanita yang sudah menghancurkan bertahun-tahun hubungan kita dalam sekejap. Lima tahun bersama rusak seketika dalam waktu dua bulan. Kamu hanya menunduk tak berdaya, sementara dia memasang wajah dengan senyum kemenangan.)

Lo : "Maaf, dia bisa lebih ngertiin gue." (Kamu memberanikan diri mengangkat wajah menatapku sekilas lalu menatapnya.)

Gue : (Aku menatapmu semakin dalam. Mencoba membaca isi hati dan pikiranmu. Bingung, tak mengerti jalan pikiranmu.) "Lalu menurutmu, aku gak pernah mengerti?" (Siapa sebenarnya dia? Apa yang membuatmu memilihnya dan meninggalkanku begitu saja. Seksi? Kaya? Jelas aku gak ada apa-apanya. Tapi, serendah itukah?)

05 July 2016

Cerpen Plot Twist : Antara Ada dan Tiada

Sore hari di taman kota, aku duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon yang rindang bersama dia. Seorang pria yang telah mengisi hatiku sejak delapan tahun silam saat kami masih sama-sama di bangku SMA dan dia masih akan selalu berada di hatiku selamanya. Wajahnya nampak sangat tenang. Senyum tak pernah sirna dari wajahnya. Kami berbincang sambil sesekali tertawa riang.

Beberapa orang lewat di sekitar kami dan melihatku dengan tatapan aneh dan bingung. Sesekali mereka tertawa tertahan. Aku bertanya padanya, apakah ada sesuatu yang aneh padaku sehingga membuat mereka tertawa. Dia hanya tersenyum ramah. Aku semakin bingung, sepertinya benar-benar ada yang aneh pada diriku. Aku langsung mengambil kaca di dalam tas, mungkin ada sesuatu di wajahku atau makeup ku yang terlalu menor. Aku juga mengecek pakaianku, mungkin ada yang bolong. Tapi ternyata tidak ada apa-apa, semua nampak normal.

Aku kembali menatapnya dan bertanya sebal, beri tahu aku jika ada yang aneh padaku yang membuat mereka tertawa. Dia pun hanya tertawa ringan dan berkata bahwa tidak ada yang aneh dan mungkin mereka hanya iri pada kecantikanku. Aku memukulnya pelan sambil tertawa. Dia memang paling bisa menggodaku. Aku percaya padanya dan tak mempedulikan tatapan aneh orang-orang. Mungkin benar mereka hanya iri melihatku dan dia yang begitu mesra.

04 June 2016

Cerpen Plot Twist : Takdir tak Berpihak

Pukul tujuh pagi. Suasana di Lapas nampak ramai karena akan diselenggarakan apel memperingati Hari Bhakti Pemasyarakatan atau Dirgahayu Pemasyarakatan yang diperingati setiap tanggal 27 April. Apel ini akan dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM dan para pejabat dan pegawai dari beberapa Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan lainnya di sekitar kota, seperti Lapas, Rutan, Rupbasan, LPKA, dan Bapas.

Regu piket jaga semalam telah begadang dan tidak tidur untuk mempersiapkan semuanya. Nail, salah satu petugas jaga nampak sangat mengantuk dan lelah. Seharusnya ia bisa pulang selepas piket malam. Tapi pagi ini harus mengikuti apel terlebih dahulu. Nail berjalan keluar menuju kantin. Sepertinya ia membutuhkan secangkir kopi dan sarapan untuk mengembalikan tenaganya. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum gladi dan apel dimulai. Nail berjalan dengan gontai dan sesekali menguap.

Tiba-tiba Nail hampir menabrak seorang pegawai wanita dari UPT lain. Ia segera sedikit bergeser agar pegawai tersebut bisa lewat. Tapi ternyata wanita tersebut bergeser ke arah yang sama. Kejadian ini berulang tiga kali. Mereka pun berpandangan dan tertawa. Akhirnya Nail merapatkan diri ke dinding dan mempersilahkan si wanita lewat. Pegawai wanita itu pun tersenyum dan mengangguk pelan sebelum berjalan melewati Nail.

22 May 2016

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik (5)

Dear Rubik, Sahabatku....
Aku kembali. Maafkan aku pergi terlalu lama. Apakah kau marah padaku? Bukan keinginanku, sungguh. Andai bisa, aku ingin datang setiap hari. Kau tau kan, aku bergantung pada hujan dan matahari. Dan ternyata mereka tak bersahabat dengan kita. Hingga delapan puluh delapan hari berlalu sejak pesanmu yang terakhir, aku baru bisa kembali. Lebih tepatnya seratus delapan puluh delapan hari sejak kedatanganku terakhir kali. Kuharap kau dapat mengerti.

Hemmm.... apa kau benar-benar merindukanku? Warna-warniku? Apa kau serius dengan semua yang telah kau katakan? Maafkan aku yang selama ini tak mengerti karena kau tak pernah terus terang. Kenapa kau baru berani bilang setelah aku menghilang? Atau kau hanya merasa kehilangan teman? Aku tak berani menebak-nebak perasaanmu padaku.

Sebenarnya jujur saja aku juga merindukanmu. Sangat. Tapi.... aku tak tahu rasa ini sekadar teman, sahabat, atau lebih, atau rasa yang lain yang tak kumengerti. Aku juga tak dapat menjelaskannya padamu. Aku takut salah mengartikan semuanya. Bantu aku.

15 May 2016

Cerpen : Telfon

Who do you think you are, running round leaving scars, collecting your jar of heart... Panggilan dari nomor pribadi. Dering handphone berhenti ketika tombol jawab ditekan.

"Hallo."

Hening. Tidak ada suara di ujung telfon sana.

"Hallo. Siapa?"

Tut tut tut. Panggilan terputus. Entah siapa yang menelfon. Dihubungi kembali pun tidak bisa karena tidak ada nomor yang tampil. Alfa nampak bingung. Jam menunjukkan pukul setengah lima. Ini masih terlalu pagi untuk menelfon seseorang apalagi dengan nomor tak diketahui. Apa mungkin cuma orang iseng yang ingin membangunkannya. Tapi siapa?

Tak lama kemudian handphonenya berdering lagi. Alfa langsung menekan tombol jawab. Tapi dia tidak menyapa duluan. Alfa hanya diam mencoba mendengar seseorang di ujung telfon sana. Tapi orang tersebut juga hanya diam. Dua menit berlalu hanya dalam diam. Sepertinya Alfa sudah mulai kesal.

"Hei. Kalo cuma mau diem, mending dimatiin aja. Kau tau ini jam berapa? Jangan bikin orang kesel pagi-pagi gini. Pake private number pula. Kau ini siapa?"

29 April 2016

Cerpen : Dari Balik Jeruji

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas.  Dia duduk di pos jaga. Nampak gagah dengan seragam dinas, biru muda - biru dongker dan sepatu boots. Sesekali menggunakan baret, sesekali menggunakan topi biasa, atau nampak rambutnya yang berpotongan pendek rapi tertata.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Dia mengawas narapidana pria melakukan pembersihan di lapangan. Atau terkadang mengawas narapidana pria melakukan olahraga. Atau sesekali pula dia bermain bola bersama para petugas dan narapidana.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Aku hapal kapan jadwal piketnya dan aku selalu memandangnya dari balik jeruji jendela. Aku selalu menunggu saat-saat aku sedang kegiatan di luar blok dan bertepatan dengan jadwal piket pagi atau siangnya. Aku bisa memandangnya dari lapangan. Lebih dekat. Aku semakin mengenal wajahnya. Lebih jelas.

25 April 2016

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik (4)

Dear Pelangi,
Hei kau dimana? Aku tak dapat melihatmu di atas sana. Apa kau sudah pergi? Kenapa begitu cepat. Atau aku yang terlambat datang? Aku ingin melihat warna-warnimu. Ayolah kembali lagi. Wahai langit, wahai rintik hujan, wahai mentari bersahabatlah. Bawa lagi Pelangi kesini.

Kau hampir berhasil menyelesaikan warnaku. Aku akan sabar menunggumu. Kuharap kau dapat segera kembali dan berusaha lagi.

-Rumit a.k.a Rubik-


--------------------------------------------------
--------------------------------------------------


Pelangi?
Hei kau kemana? Kenapa tak kunjung datang? Kenapa kau pergi terlalu lama. Aku tak sabar menunggumu. Ini sudah hampir dua minggu berlalu. Sampaikan salamku pada hujan dan matahari, apa mereka membenciku sehingga menghalangiku untuk melihatmu. Kembalilah segera. Aku selalu menunggumu.

-Rubik-


--------------------------------------------------
--------------------------------------------------


Dear Pelangi,