17 July 2026

Aku Iri

Aku iri.

Aku menyadari perasaan ini muncul beberapa tahun belakangan. Berawal dari grup FB. Saat itu follow group TB Tulang di FB, buat baca-baca info orang-orang yang punya penyakit sama dan gimana kondisi mereka. Pas awal gabung pernah beberapa kali ikut reply di postingan orang. Tapi lama-lama cuma jadi silent reader terus makin lama udah ga mau lagi baca juga.

Seharusnya grup ini bisa memotivasiku, tapi nyatanya ga. Banyak orang operasinya berhasil, sembuh, balik normal lagi, tapi aku ga. Ya memang ada juga yang jadi lumpuh dan mungkin ada juga beberapa yang lebih parah dari kondisiku. Tapi mereka juga tidak ada yang aktif posting atau comment. Hanya orang-orang yang sembuh yang posting. Postingan dengan kata-kata "semangat sembuh" dengan video atau foto mereka berjalan, bukan lagi memotivasi, tapi malah bikin sakit hati.

Mungkin kalo aku gabung pas aku sakit tahun 2017, grup itu akan cocok. Aku bisa ikut sharing kondisiku yang kembali pulih. Tapi sekarang, grup itu ga cocok lagi buatku.

Sekarang mulai follow juga di IG beberapa orang yang pakai kursi roda juga. Ada yang karena kecelakaan atau sakit lain. Ada wheelchair workout influencer, orang luar negeri, yang membuatku termotivasi untuk olahraga tiap pagi. Aku latihan ngikutin contoh-contoh gerakan dari situ.

Karena follow tentang kursi roda dan karena save beberapa postingan kursi roda, algoritma IG-ku mulai munculin postingan serupa. Dan dari sinilah aku mulai makin menyadari perasaan ini. Bahwa aku merasa iri. Termasuk alasan aku menulis ini, setelah scrolling IG dan melihat postingan orang yang bisa tetap hidup bahagia, berprestasi, bekerja walau dengan kursi roda. Aku juga ingin. Aku mengkhawatirkan masa depanku, tapi aku ga tau harus gimana. Postingan mereka tidak lagi menginspirasi, tapi justru semakin membuatku merasa ga berguna.

Aku tau ga seharusnya aku membandingkan hidup dengan orang lain. Tapi aku hanya manusia biasa yang masih belum bisa menjaga hati agar tidak kotor karena iri. Maka aku lebih memilih menghindarinya. Tidak scrolling demi diriku sendiri. Hanya melihat yang perlu-perlu aja, seperti contoh-contoh wheelchair workout tadi. Dan juga scrolling platform lain yang bener-bener ga ada hubungan dengan disabilitas.

Aku punya hak untuk memilih menghindarinya kan. Biarlah aku mencari motivasiku sendiri dengan hal lain. Daripada aku malah jadi membanding-bandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Aku cukup bahagia dengan kondisiku yang sekarang. Dan insyaallah aku akan terus berprogress. Semoga suatu hari aku bisa dengan berani mnyatakan bahwa aku juga bahagia seperti mereka.


No comments:

Post a Comment