26 March 2014

Untuk Para Muslimah, Yuk Berjilbab Syar'i:')

Untuk Para Muslimah, Yuk Berjilbab Syar'i :')


Meski perlahan tapi pasti, berubah menjadi muslimah yang lebih syar'i.
Karena jilbab bukan pilihan, melainkan kewajiban bagi para muslimah.
Itu perintah Allah untuk melindungimu shalihat.
Tak perlu menunggumu siap, karena malaikat maut juga takkan menunggumu siap.
Jangan sampai kain putih panjang itu menjadi jilbabmu yang pertama dan terakhir. :')

Bagi yang sudah berjilbab, yuk kita sempurnakan lagi. 

Apakah jilbab yang kita kenakan sudah sesuai dengan perintah-Nya.
  • Khimar tebal, tak menerawang, terulur menutup dada, tidak menyerupai punuk unta, tidak menyerupai suatu kaum.
  • Jilbab tebal, tak menerawang, tak membentuk lekuk tubuh.
  • Sederhana, tidak tabarruj (berhias/parfum berlebihan, memamerkan keindahan agar menarik lelaki).

Yuk sederhanakan penampilan kita shalihat. :')
Karena jilbab bertujuan untuk melindungi kehormatan.
Bukan sebagai pengganti rambut/perhiasan yang justru menarik perhatian orang untuk melihat.
Jangan mengumbar keindahanmu untuk lelaki yang belum halal bagimu.
Jaga diri hanya untuk lelaki halal yang menjadi imammu.

Aku tahu aku pun belum sempurna. :')
Semua memang butuh proses.
Setidaknya kita sudah memulai untuk menjadi lebih baik.
Kalau bukan sekarang, lalu tunggu apa lagi.
Waktu terus berjalan, malaikat maut bisa datang kapan saja tuk menjemput.
Yuk sama-sama kita belajar, perbaiki hati, perbaiki penampilan menjadi lebih syar'i. :')

09 February 2014

Puisi : Luka

Puisi

Luka


Mata indah memesona
Bulat berkilau bak mutiara
Pandang sendu isyaratkan luka
Tak dapat membohongi rasa

Senyum simpul lesung pipi
Bagai kembang tak bersemi
Tiada manis yang dirasa
Hanya pahit menipu mata

Tiada dapat bersembunyi
Goresan perih dalam hati
Mata tiada membohongi
Senyum tak mampu menutupi

Hati yang menderita
Perih yang menyakitkan
Semua luka dalam kalbu
Perlahan kan membunuh

-TD-

Puisi : Dimana Merahku

Puisi

Dimana Merahku


Benci pada pribadi ini
Lelah dengan sikap begini
Selalu bungkam, hanya terdiam
Menutup diri dalam kelam

Keramaian fikiran yang tiada henti
Tak pernah ada arti
Karena kata selalu mati
Tiada berbunyi

Dimana sang merah berada
Terkubur terlalu dalam dan lama
Masih bisakah ku gali
Munculkan merahku lagi

Kapankah pengecut ini bangkit
Kalahkan gelisah dalam hati yang sakit
Kobarkan api dalam jiwa
Menjadi merah yang sesungguhnya

-TD-