07 December 2014

Pernikahan adalah Peristiwa Peradaban

[COPAST]

PERNIKAHAN ADALAH PERISTIWA PERADABAN


Pernikahan itu seperti kematian, ia tak dapat diprediksi namun wajib untuk disiapkan. Pernikahan itu seperti kematian, ia tak perlu dibicarakan namun ia pasti akan datang. Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati. Padahal sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban. Ini bukan hanya tentang dua manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad. Ini peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia.

Pernikahan adalah sayap kehidupan. Rumah adalah benteng jiwa. Jika di rumah kita mendapat energi memadai, di luar rumah kita akan produktif. "Sakinah" bukan cuma "tenang". Ia berasal dari kata "sakan" yang artinya "diam/tetap/stabil". Maka ia tenang karena stabil, bukan lalai. Sakinah: ketenangan yang lahir dari kemantapan hati. Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komperhensif. Al-Qur’an menjelaskan: "Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya". Air (mani): sumber stabilitas dan produktifitas. Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun. Learning by doing. Islam arahkan menikah muda agar penasaran itu cepat terjawab. Agar setelah "rasa penasaran" itu terjawab, perhatian seseorang bisa lebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas.

Tidak perlu takut terhadap beban hidup, yang perlu dilakukan hanya mengelolanya. Sebab pelaut ulung pun terlahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera.
Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta. Dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai. Hubungan yang terbina bukan hanya hubungan emosional, tapi juga spiritual-rasional. Karena keluarga ini adalah basis sosial terkecil untuk membangun peradaban.

[Khutbah pernikahan anak Ust. Tate Qomaruddin oleh Ust. Anis Matta]

03 December 2014

21 Tahun

21 tahun.
Bukan lagi seorang remaja. Apalagi anak-anak.
Merasa masih bocah ingusan yang tak mengerti apa-apa.
Waktuku yang telah berlalu, masih begitu banyak dosa dan sedikit amal ibadah. Astaghfirullah. :'(
Entah hingga kapan umurku yang tersisa. Masihkah aku akan menyia-nyiakannya. Astaghfirullah. :'(
Ampunilah dosa dan khilaf hamba di masa lampau ya Allah. Jangan jadikan sebagai pemberat hidupku.
Bantu hamba ya Allah. Kuatkan hamba. Engkau-lah Sang Pembolak-balik hati. Istiqomahkan hamba selalu di jalan-Mu. Memperbaiki diri agar sesuai dengan aturan-Mu.
Ijinkan hamba membahagiakan ibu dan ayah, membahagiakan orang-orang yang menyayangiku, memohon maaf pada orang-orang yang pernah tersakiti, menjadi orang yang berguna di agama-Mu ya Allah.
Astaghfirullahal'adzim. Astaghfirullahal'adzim. Astaghfirullahal'adzim.
Allahu la ilaha illahu wa al-hayyul qoyyum wa atubu ilaih.
Aamiin ya Robbal 'alamin.


01 December 2014

Cerpen Islami : Niqab

Niqab


Aku berdiri di depan cermin menatap diri. Tanganku bergetar menggenggam selembar kain. Kutatap lagi diri ini lebih dalam. Meyakinkan hati. Sudah siapkah aku? Berkali-kali kupandang kain ini dan diriku di dalam cermin. Bismillahirrahmannirrahim. Dengan menyebut nama Allah, kuikatkan kain ini menutupi wajahku.

Kutatap lagi diriku di dalam cermin. Khimar, jilbab, dan sepasang bola mata. Sejak hari ini aku memutuskan untuk menggunakan niqab.

Kulangkahkan kaki keluar kamar menemui ibu dan bapak. Kucium tangan mereka memohon ridhonya. Setelah perbincangan serius semalam, walaupun sempat melarang, tapi Alhamdulillah akhirnya ibu dan bapak mengizinkanku memakai penutup wajah ini.

Aku tahu keputusanku ini mempunyai begitu banyak dampak. Bahkan cibiran tetangga sudah sering mampir di telinga karena jilbabku yang panjang. Entah apalagi yang akan mereka bincangkan setelah kututup sebagian wajahku ini. Tapi aku tak peduli cibiran mereka karena semua ini kulakukan hanya untuk mentaati perintah Allah swt dan mengikuti sunnah Rasul. Allah pasti akan memberikan kekuatan kepadaku untuk menghadapi pandangan orang lain.