Friday, 8 August 2014

Cerita Pendek Pernikahan

PERNIKAHAN


"Ananda Naufal Shiddiq bin Rizki, saya nikah dan kawinkan engkau dengan putri saya, Matahari binti Ernaldi dengan mas kawin uang tunai sebesar lima juta dua belas ribu tiga belas rupiah dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Matahari binti Ernaldi dengan mas kawin tersebut tunai."

"Sah. Alhamdulillahirrobbil'alamin."

Perlahan kubuka pintu kamar. Senyum haru nan bahagia orang-orang menyambutku dengan hangat. Disana seorang pria duduk di hadapan ayah menantiku untuk duduk bersanding di sisinya. Dialah pria yang dengan mantap mengucap ijab, meminangku melalui waliku.

Mataku kian berkaca-kaca. Kutatap matanya lebih dekat, ternyata ia juga menahan haru yang sama. Dia melingkarkan sebuah cincin di jemariku. Lalu kucium tanganya perlahan dan ia membalas mengecup keningku dengan lembut. Airmata ini tak lagi dapat terbendung. Perlahan kurasakan hangat airmatanya juga mengalir di keningku.

Kubersimpuh di pangkuan ibu dan ayah, memohon doa dan ridhonya. Pelukan ibu dan ayah terasa lebih hangat dari yang pernah aku rasakan. Aku tahu pasti sulit bagi mereka untuk melepasku pergi. Selama ini aku belum pernah jauh dari mereka. Tapi kini sudah ada pengganti ayah yang akan melindungi dan menjadi imamku.

Pria yang kini ada di sisiku telah menjadi halal untukku. Dialah yang kini akan membimbingku menuju ridho-Nya. Walau aku baru mengenalnya sebulan yang lalu, tanpa pernah berhadapan langsung karena kami saling mengenal melalui ta'aruf. Tapi aku yakin aku mencintainya karena Allah dan aku memilihnya karena cintanya kepada Allah.