Friday, 19 August 2016

Cerpen Fiksi : Dia.Lo.Gue (Dialogue)

Di suatu tempat, pada suatu waktu aku melihat kamu dan dia. Kamu yang tiba-tiba pergi meninggalkanku tanpa alasan. Dan kini kamu bersamanya. Siapa dia?

Gue : Jadi karena dia? (Aku menatap kamu dan dia bergantian. Wanita dengan dandanan seksi dan kaya. Wanita yang sudah menghancurkan bertahun-tahun hubungan kita dalam sekejap. Lima tahun bersama rusak seketika dalam waktu dua bulan. Kamu hanya menunduk tak berdaya, sementara dia memasang wajah dengan senyum kemenangan.)

Lo : Maaf, dia bisa lebih ngertiin gue. (Kamu memberanikan diri mengangkat wajah menatapku sekilas lalu menatapnya.)

Gue : (Aku menatapmu semakin dalam. Mencoba membaca isi hati dan pikiranmu. Bingung, tak mengerti jalan pikiranmu.) Lalu menurutmu, aku gak pernah mengerti? (Siapa sebenarnya dia? Apa yang membuatmu memilihnya dan meninggalkanku begitu saja. Seksi? Kaya? Jelas aku gak ada apa-apanya. Tapi, serendah itukah?)

Lo : (Kamu kembali menunduk, seakan menyadari alasanmu yang hanya dibuat-buat. Sementara wajahnya semakin membuatku muak.)

Gue : Kurang apa? Salah apa? (Ternyata aku bukan wanita yang kuat. Aku tak dapat lagi menahan air mata ini jatuh seketika.)

Dia : Hei, sadar. Lo gak ada apa-apanya dibanding gue. (Dia mencoba mendorongku, tapi kenapa kamu menahannya. Tak perlu membantuku, tiada arti lagi.)

Lo : Sudah! (Kamu membentaknya? Apa kamu membelaku? Tidak. Tak mungkin. Lalu kamu menatapku lagi. Pandangan yang begitu lemah. Aku tak mengerti. Kemana ketegasan yang dulu memancar dari matamu.) Sekali lagi, maafin gue. Lo lebih berhak dapet cowok yang lebih baik, bukan gue.

Gue : Beri aku alasan yang jelas. Beri aku penjelasan. Gak seharusnya kamu pergi sementara aku gak ngerti kenapa. (Tangisku semakin menjadi, tak tertahan lagi. Biarlah kamu melihatnya. Bahwa aku lemah tanpamu. Biarlah dia melihatnya. Semoga dia menyadari betapa sakitnya.) Ku mohon....

Dia : Gak ngerti banget sih lo. Dia lebih milih gue dibanding cewek kampungan kayak lo. Terima nasib aja. Dia gak suka lagi sama lo. (Wajahnya benar-benar membuatku muak.)

Gue : (Plaaakk! Semua kebencian itu menyentuh pipinya. Dia menangis, merengek. Kamu lebih memilih cewek cengeng sok hebat ini?)

Lo : Maksud lo apa nyakitin dia? (Kamu menarik lenganku kasar dan menatapku dengan begitu marah. Aku menarik lepas lenganku darimu. Nyakitin? Sadarkah kamu dan dia juga telah menyakitiku.)

Gue : (Plaaakk! Kali ini buatmu. Tak seberapa dibanding dengan semua sakit hati ini. Kamu terdiam, tak lagi berani menatapku. Dia masih saja merengek manja dan menatapku marah.)

Dia : Dasar cewek gak tau malu!

Gue : (Aku hanya meliriknya sekilas. Tak ada guna meladeninya. Aku kembali menatapmu.) Pergilah. Aku gak akan menghalangi lagi. Aku gak perlu lagi penjelasan. Rendahnya sikapmu menjawab semua. (Aku pergi meninggalkanmu dan dia. Terserahlah apa yang kalian lakukan. Biarlah ketidaktahuan ini memenuhi pikiranku. Apapun alasanmu, yang ku tahu kamu bukan yang terbaik buatku.)