13 October 2018

Ngobrol-ngobrol Dalam Mobil

Ini akan terbagi menjadi part 1 dan part 2. Seharusnya yang dulu juga dibuat postingan. Tapi sepertinya karena mood menulis yang sedang buruk, jadi lewat gitu aja. Maka kali ini ceritanya akan langsung digabung aja menjadi 2 bagian.

Ngobrol-ngobrol Dalam Mobil Part 1

Pagi itu hari Sabtu entah lupa tanggal berapa, ibuk ada kegiatan di lapas anak. Aku nganterin kesana. Lalu di jalan pulang bude nelfon ngajakin makan keluar sore-sore. Hemm, sudah menduga-duga ini ada apa. Mau nolak tapi ga enak, takut ga sopan. Yaudah diokein aja.

Sore harinya kesana ngejemput bude, sendirian. Ibuk belum pulang. Ijin ayah, cuma bilang mau ke PTC (rumah bude emang deket situ). Sampe sana numpang sholat Ashar dulu. Tapi kemudian malah hujan deras. Sederas-derasnya. Jadi nunggu dulu di rumah bude. Masih deg-degan dan menduga-duga. Pasti mau ditanya-tanya atau mau dikenalkan dengan seseorang. Selagi nunggu hujan reda, ngobrol-ngobrol di rumah bude belum ada tanda apa-apa.

Akhirnya hujan reda sekitar jam 5an. Sebenernya sudah kesorean banget, tapi tetap jadi berangkat.
Aku: "Mau kemana kita bude?"

23 July 2018

Kepingan Puzzle

Dia membuatku seperti bermain puzzle. Entah kenapa aku mengumpulkan setiap kepingan puzzle yang dia buat. Mencoba merangkainya perlahan sambil menduga-duga ini tentang apa dan siapa. Sekaligus sedikit mengharap mungkin ini tentangku? Beberapa kepingan yang kususun terkadang membuatku ragu. Tapi kemudian setelah kutemukan kepingan-kepingan baru, keyakinan itu kembali muncul.

Dan kini kepingan-kepingan puzzle itu mulai terlihat bentuknya. Dan dia melengkapi salah satunya. Selama ini aku mencoba menyusunnya sendiri. Baru saja aku putus asa dan ingin berhenti. Kutemukan kepingan puzzle yang membuatku berpikir puzzle ini bukan tentangku lagi. Tidak.

02 July 2018

Cerpen : Kata yang Tak Terucap (2)

Pagi ini di sekolah, Rubik sudah menyambutku di depan gerbang. Entah sudah berapa lama dia menungguku di sini. Dia langsung menagih bukunya ketika aku datang.

"Selamat pagi." Sapanya dengan senyum yang merekah. "Eh, matamu sembab. Kenapa?" Dia bertanya dengan wajah khawatir.
"Tidak apa-apa." Jelasku dengan senyuman agar ia tak mencemaskanku.

Rubik segera membuka buku dan membaca tulisanku.

"Apa kamu menangis karena mengingat kejadian yang dulu saat menulis ini? Maafkan aku sudah menanyakannya sehingga membuatmu sedih." Ia menulisnya di buku.
"Tidak apa-apa. Aku tidak sedih karena hilangnya suaraku. Masih beruntung bukan nyawaku. Karena sedikit terkenang masa lalu, jadi aku terbawa suasana saja. Jadi berpikir bagaimana kalau aku benar-benar pergi." Aku membalas di bawah tulisannya.

Rubik balas menulis, "Bersyukur Yang Maha Kuasa masih memberikanmu waktu menikmati kebersamaan bersama keluargamu dan orang-orang yang menyayangimu."
"Iya. Hanya saja, setelah kupikir-pikir semalam, aku jadi membenci pelangi."
"Kenapa?"