Monday, 25 April 2016

Cerpen Fiksi : Pelangi & Rubik (4)

Dear Pelangi,
Hei kau dimana? Aku tak dapat melihatmu di atas sana. Apa kau sudah pergi? Kenapa begitu cepat. Atau aku yang terlambat datang? Aku ingin melihat warna-warnimu. Ayolah kembali lagi. Wahai langit, wahai rintik hujan, wahai mentari bersahabatlah. Bawa lagi Pelangi kesini.

Kau hampir berhasil menyelesaikan warnaku. Aku akan sabar menunggumu. Kuharap kau dapat segera kembali dan berusaha lagi.

-Rumit a.k.a Rubik-


--------------------------------------------------
--------------------------------------------------


Pelangi?
Hei kau kemana? Kenapa tak kunjung datang? Kenapa kau pergi terlalu lama. Aku tak sabar menunggumu. Ini sudah hampir dua minggu berlalu. Sampaikan salamku pada hujan dan matahari, apa mereka membenciku sehingga menghalangiku untuk melihatmu. Kembalilah segera. Aku selalu menunggumu.

-Rubik-


--------------------------------------------------
--------------------------------------------------


Dear Pelangi,
Kau masih belum bisa datang? Aku masih menunggumu. Selalu. Taukah kau disana, di persembunyianmu? Warna-warnaku menunggumu untuk segera diselesaikan. Sebulan terasa begitu lama ternyata tanpamu. Hei warnaku sangat merindukan warnamu.

Masih menunggumu,
-Rubik-


--------------------------------------------------
--------------------------------------------------


Dear Pelangiku,
Seratus hari telah berlalu. Dan aku masih belum bisa berjumpa denganmu lagi. Maaf jika aku menambahkan "ku" pada namamu, seolah kau adalah milikku. Memang itu yang kumau. Aku ingin kau selalu di dekatku, bersamaku, menemaniku sepanjang waktu.

Pelangiku yang selalu kurindu, kali ini aku takkan menutupi lagi semua rasa ini. Aku merindukanmu. Selalu. Sangat merindukanmu. Rindu lekuk indahmu. Rindu warna-warnimu. Rindu semua tentangmu.

Aku senang bisa mengenalmu. Tapi terkadang aku kecewa karena kau selalu menyebut kata "sahabat". Aku menginginkanmu lebih. Aku berharap banyak padamu. Kuharap kau mengerti dan takkan semakin menjauh. Ku mohon. Aku tak mau jauh darimu.

Lihatlah kita. Kita sama-sama punya banyak warna. Bukankah itu suatu pertanda? Aku ingin kau mewarnai hidupku. Dan ijinkan aku menjadi bagian dari warna-warni indahmu.

Pelangiku, datanglah. Aku mencintaimu...

-Rubik-