Sunday, 24 April 2016

Cerpen Fiksi : Tanda Tanya ?

Siang ini hujan deras mengguyur kota. Beruntunglah tadi aku tiba di toko buku ini saat hujan baru saja rintik. Jadi aku berlarian kecil dari parkiran mobil menuju ke dalam toko. Tanpa basah. Toko buku ini memiliki parkiran terbuka. Jadi sekarang mobilku diluar basah terguyur hujan.

Sudah lebih dari satu jam aku berkeliling di toko buku ini. Buku yang aku cari juga sudah didapat. Tapi aku belum bisa pulang. Diluar hujan masih cukup deras. Aku tak mau basah kuyub gara-gara harus lari menuju parkiran. Jadi aku masih keliling melihat-lihat buku selagi menunggu hujan reda.

Setelah bosan berkeliling, aku pun turun setelah membayar buku yang kupilih. Berharap hujan diluar sudah reda. Jadi aku bisa segera pulang.

Ada banyak orang di lantai pertama berdiri di sekitar pintu utama. Diluar masih hujan deras dan mereka terjebak disini. Sama sepertiku, menunggu hujan reda. Kemudian di antara orang-orang tersebut, pandanganku tertuju pada seseorang. Tampak samping seorang pria bersepatu boots hitam, seragam celana biru dongker dan atasan biru muda, tertutup jaket. Tampak seperti "dia".

Karena penasaran dan ingin memastikan, aku pun mendekatinya.  Ya, itu benar-benar dia. Lalu aku memberanikan diri menyapanya.

"Naf?"

Dia pun menoleh dan menatapku dengan agak kaget. "Eng... eh... Rai."

Sudah cukup lama aku tak bertemu dengannya. Bahkan bisa melihatnya sedekat ini. Sudah cukup lama aku tak berkomunikasi dengannya. Sejak saat itu, dia menjauh tanpa penjelasan dan tak pernah mengirimku pesan lagi.

"Apa kabar?" Suaraku bergetar. Aku tak biasa mengobrol langsung dengannya.

"Ba... Baik." Suaranya pun parau. Aku tak tau apa yang dirasakannya sekarang saat melihatku.

Aku terdiam. Menatap hujan yang masih saja mengguyur kota. Aku bingung apa lagi yang harus kukatakan. Tanpa kusadari ternyata mata ini sudah berkaca-kaca. Kucoba menahan jangan sampai airmata ini jatuh menetes. Aku tak mau dia melihatku begini.

Kulirik lagi dia yang berdiri di sebelahku. Wajahnya masih nampak kaget, bingung, dan nampak kaku dengan kehadiranku. Aku memberanikan diri lagi untuk bicara. Tapi tanpa menatap wajahnya.

"Entah,"  Pelan aku mulai lagi berbicara, tak ingin orang di sekitar ikut mendengar. "aku harus senang atau sedih bertemu lagi denganmu. Jujur, aku masih bingung dengan sikapmu dulu. Ada begitu banyak tanya di pikiranku, yang ingin kutanyakan padamu." Airmata ini semakin menggenang, mengenang masa-masa yang pernah dilalui bersama. Saat ini airmata ini masih sanggup kutahan.

"Kita memulai kenal dengan cara yang baik. Tapi... tapi kenapa harus berakhir begini. Tanpa kejelasan. Kenapa. Salah apa." Suaraku mulai terisak. Sepertinya airmata ini mulai tak mampu tertahan. Aku menundukkan kepala, berharap tiada yang melihat. Bahkan dia.

"Kau membuatku merasa begitu spesial, hingga kau berubah dan pergi meninggalkan." Kali ini airmataku benar-benar telah menetes. Segera kuhapus dengan punggung tangan. "Andai ada penjelasan, walau ujungnya tetap berakhir, tapi mungkin takkan sesakit ini." Aku menghapus airmataku yang menetes lagi.

Dia hanya diam, tak mampu berkata. Hening sejenak di antara kita. Terkahir kali, kutatap lagi wajahnya. Aku tak tau mengartikan ekspresi wajahnya. Mungkin seperti rasa bersalah atau hanya aku saja yang terlalu berharap.

"Makasih buat waktunya selama ini." Aku langsung berlari menuju parkiran menerobos hujan. Tak peduli lagi aku sudah basah kuyub. Airmata ini semakin membaur dengan derasnya hujan yang turun. Sekilas terdengar suaranya memanggil namaku. Samar, terbias oleh suara hujan. Tapi aku tak menghiraukannya.

Di dalam mobil, tangis ini semakin jelas. Tak lagi tertahan. Kubiarkan saja berdiam di dalam mobil menyelesaikan tangisku. Meluapkan semuanya. Lima menit berlalu, airmata ini tak kunjung berhenti. Layaknya hujan yang terus menghempaskan airnya.

Kemudian hp ku berdering. Tanda Sms masuk. Kulihat di layar, ternyata darinya.

Maaf. Lupakanlah aku, Rai.

Pesan yang sangat singkat. Respon atas penjelasanku tadi yang berurai airmata. Respon darinya setelah aku memberanikan diri bicara. Respon yang kudapat setelah basah kuyub menerobos hujan. Seketika airmata ini berhenti. Rasanya terlalu bodoh aku basah-basahan dan menangis. Karena dia. Sementara dia, tak peduli lagi.

Segera kuhapus pesan darinya. Kuhapus pula sisa airmata di pipi. Kunyalakan mobil dan melaju pergi. Meninggalkan semuanya. Melupakan semuanya. Biarlah semuanya tetap menjadi tanda tanya besar. Tanda tanya yang mungkin takkan pernah terjawab. Layaknya cerita ini, yang takkan dimengerti.


-Selesai-