Friday, 29 April 2016

Cerpen : Dari Balik Jeruji

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas.  Dia duduk di pos jaga. Nampak gagah dengan seragam dinas, biru muda - biru dongker dan sepatu boots. Sesekali menggunakan baret, sesekali menggunakan topi biasa, atau nampak rambutnya yang berpotongan pendek rapi tertata.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Dia mengawas narapidana pria melakukan pembersihan di lapangan. Atau terkadang mengawas narapidana pria melakukan olahraga. Atau sesekali pula dia bermain bola bersama para petugas dan narapidana.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Aku hapal kapan jadwal piketnya dan aku selalu memandangnya dari balik jeruji jendela. Aku selalu menunggu saat-saat aku sedang kegiatan di luar blok dan bertepatan dengan jadwal piket pagi atau siangnya. Aku bisa memandangnya dari lapangan. Lebih dekat. Aku semakin mengenal wajahnya. Lebih jelas.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Dari dalam blok wanita. Sementara dia bertugas di blok pria. Jauh di seberang lapangan. Sudah satu tahun aku di sini memandangnya dari jauh dan masih akan terus begini hingga tiga tahun ke depan. Di sini, Lapas Klas I. Vonis 4 tahun hukuman, Pasal 127(1) UU 35/2009. Kasus yang sangat terpaksa kulakukan dan tiada yang perlu tahu kenapa.

Dari balik jeruji aku memandang. Jauh, tak nampak jelas. Dan hanya akan selalu seperti ini saja. Takkan ada kisah. Takkan ada cerita. Berakhir begini saja hingga nanti saat aku bebas. Biarlah. Cukup begini saja. Karena aku tetap suka memandangnya, walau hanya dari balik jeruji penjara.